Bahasa dalam ranah politik tidak sekadar berfungsi sebagai alat penyampai informasi, melainkan telah bertransformasi menjadi strategi retoris untuk membangun citra diri (image branding) dan memengaruhi persepsi publik. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam jenis, fungsi, dan pemaknaan gaya bahasa kiasan yang diproduksi secara langsung (tanpa teks) oleh Anies Baswedan dalam sesi tanya-jawab interaktif pada program Mata Najwa bertajuk “Anies Baswedan Bicara Gagasan” di kanal YouTube Najwa Shihab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode simak dan catat sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data didasarkan pada landasan teori gaya bahasa kiasan Gorys Keraf dan diolah menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 jenis gaya bahasa kiasan dengan total akumulasi 80 data ujaran, yang terdiri atas 23 data metafora , 19 data personifikasi, 19 data ironi, 12 data metonimia, 6 data alegori, dan 1 data persamaan atau simile. Gaya bahasa yang paling dominan digunakan adalah metafora, yang menunjukkan kecenderungan penutur dalam mengolah perumpamaan implisit dan diksi teknis-intelektual untuk menyederhanakan gagasan yang kompleks. Penggunaan ragam majas kiasan ini diimplementasikan secara taktis dan tepat sebagai bagian dari strategi retorika langsung (tanpa teks) di bawah tekanan pertanyaan kritis. Melalui kombinasi perumpamaan yang kuat, narasi pengalaman pribadi, hingga sindiran halus (ironi), Anies Baswedan berhasil mengelola ketidakpastian regulasi, mengaburkan kelemahan, dan membangun citra diri yang positif serta komunikatif di hadapan audiens yang heterogen.