Muhammad Husein
Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Menjelajahi Makna Spiritual di Balik Bainguwan Itik Alabio Muhammad Husein; Ahmad
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Mei-Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i2.1992

Abstract

Tulisan ini mencoba menghubungkan dua hal yang jarang dibahas bersama: penelitian tentang peternakan itik Alabio sebagai sumber penghidupan masyarakat Banjar, dan hadis Nabi yang menjelaskan bahwa banyak nabi pernah menjadi penggembala kambing. Berangkat dari data ilmiah yang menunjukkan bahwa beternak itik Alabio menjadi mata pencaharian utama masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan kontribusi mencapai 46,81% per tahun, artikel ini ingin menunjukkan bahwa kegiatan beternak sebenarnya bukan hanya soal mencari uang. Melalui kajian pustaka dan analisis isi, ditemukan bahwa tradisi bainguwan dalam masyarakat Banjar juga mengajarkan banyak nilai kehidupan, seperti kesabaran, tanggung jawab, ketekunan, dan kepemimpinan. Nilai-nilai ini sejalan dengan hikmah di balik profesi menggembala yang pernah dijalani para nabi sebagai proses pembentukan karakter dan kedewasaan. Dengan menggabungkan sudut pandang ilmiah dan spiritual, artikel ini memberikan pemahaman bahwa bekerja dan mencari nafkah tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membentuk akhlak dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ruqyah Berbasis Sufistik Sebagai Terapi Psiko-Spiritual Alternatif bagi Depresi Muhammad Husein
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Mei-Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i2.2093

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi integrasi konseptual ruqyah berbasis sufistik sebagai salah satu bentuk mindfulness Islami melalui perspektif psikologi transpersonal dan psikoneuroi-munologi. Dengan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini mengkaji bagaimana praktik penyembuhan Islam tradisional dapat dipahami dalam kerangka psikologis dan fisiologis kontemporer. Berbagai penelitian yang telah melalui proses peer review terkait ruqyah, penyembuhan sufistik, spiritualitas Islam, dan kesehatan mental ditelaah serta disintesis secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam diskursus akademik kontemporer, di mana ruqyah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ritual mistik yang berkaitan dengan gangguan jin atau kesurupan, tetapi juga mulai dipahami sebagai suatu pendekatan psiko-spiritual yang holistik dan berpotensi membantu mengatasi gangguan psikosomatis serta berbagai tantangan psikologis pada masyarakat modern. Analisis dalam penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi yang saling berkaitan dalam ruqyah berbasis sufistik. Pertama, inabah berpotensi menjadi sarana katarsis emosional dan restrukturisasi kognitif yang membantu individu mengolah rasa bersalah yang belum terselesaikan serta kecemasan eksistensial. Kedua, praktik zikir dipahami memiliki kesamaan dengan mindfulness berbasis perhatian terfokus dan diduga dapat membantu mengurangi pikiran yang mengganggu serta mendukung regulasi sistem saraf parasimpatik. Ketiga, penerapan thibbun nabawi memberikan dukungan somatik yang melengkapi proses spiritual dan berpotensi membantu menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Sebagai kesimpulan, ruqyah berbasis sufistik menunjukkan potensi yang masuk akal untuk dipahami sebagai kerangka pendukung dalam layanan kesehatan mental yang bersifat holistik. Meskipun demikian, karena penelitian ini sepenuhnya didasarkan pada data sekunder, temuan yang diperoleh masih bersifat konseptual dan pendahuluan. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian empiris lebih lanjut, termasuk observasi klinis dan pengukuran fisiologis, guna mengkaji secara lebih mendalam mekanisme terapeutik serta implikasi praktis dari pendekatan ini dalam konteks nyata.
Etika Sufistik dalam Pencegahan Bullying: Perspektif Tafsir Isyari Ibnu ‘Ajibah Muhammad Husein; Norhidayat; Ahmad Mujahid
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1558

Abstract

This research seeks to revitalize Sufi ethics as a transformative behavioral framework to prevent bullying in the modern era, focusing on the interpretation of QS. Al-Hujurat [49]: 11 through the perspective of Ibn ‘Ajibah. The study employs a Sufi hermeneutic approach consisting of three methodological steps: textual explanation, uncovering esoteric meanings (ishari), and applying these insights to contemporary ethical and spiritual contexts. The findings indicate that bullying is not merely a social phenomenon but a manifestation of spiritual maladies such as arrogance, malice, and hypocrisy. Textual analysis of the verse reveals a hierarchical prohibition, ranging from outward social conduct to deeper spiritual transgressions. Sufi exegesis highlights fundamental concepts—such as spiritual unity, divine manifestation (tajalli), and self-purification (tazkiyat al-nafs)—as the moral foundation for countering bullying. When applied to cyberbullying, these values yield digital ethical principles, including benevolence in digital interactions, online humility, and digital communal harmony. The research concludes that the revitalization of Sufi ethics offers a more holistic and profound solution compared to conventional approaches by emphasizing the transformation of self-consciousness as the primary preventive measure. These results suggest practical implementations in character education that integrate digital and spiritual dimensions, restorative counseling based on Sufi values, and the integration of spiritual approaches with psychological interventions in bullying cases
Spiritual Authority and Political Adaptation: Sufism in Indonesia's New Order Era (1966–1998) Muhammad Husein
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1561

Abstract

This article examines the complex and dynamic relationship between Sufism and state power during Indonesia's New Order period. It argues against the prevailing notion that Sufi orders (tarekat) were apolitical or merely retreatist spiritual movements. Instead, the study demonstrates how various tarekat, particularly the Qadiriyya wa Naqsyabandiyya (TQN), underwent significant processes of rationalization, bureaucratization, and political engagement. Through a historical-sociological analysis of primary and secondary literature, the article traces the transformation of Sufism from a primarily rural, charismatic-based tradition into a modern socio-political force. Key findings reveal a pattern of state co-optation, where the regime sought to harness the mass following of the tarekat for developmental legitimacy and political stability. Concurrently, Sufi leaders navigated the political landscape with diverse strategies ranging from active collaboration with the ruling Golkar party, to opposition through Islamic parties, to deliberate neutrality. This period also witnessed the rise of charismatic "living saints" (wali) whose spiritual authority was leveraged for political mobilization. Ultimately, the New Order era was not a period of Sufi decline but one of profound adaptation, where mystical Islam actively negotiated its place within an authoritarian modernizing state, leaving a lasting legacy on Indonesia's religious and political topography.