Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PELAYANAN ADMINISTRASI TERHADAP TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DI KANTOR KELURAHAN EMPAGAE Sri Mentari Mustafa; Muhammad Rais Rahmat; Yayuk Astuti
AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol 8 No 2 (2026): AKSELERASI: JURNAL ILMIAH NASIONAL
Publisher : GoAcademica Research dan Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jin.v8i2.1678

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis kualitas pelayanan administrasi, mengukur tingkat kepuasan masyarakat, serta mengetahui pengaruh pelayanan administrasi terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada Kantor Kelurahan Empagae, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang. Populasi penelitian mencakup seluruh masyarakat yang menggunakan layanan administrasi dengan jumlah 814 orang. Dari populasi tersebut ditentukan sampel sebanyak 90 responden melalui penggunaan rumus Slovin, sedangkan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, penyebaran kuesioner, wawancara, serta dokumentasi. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis menggunakan bantuan program IBM SPSS. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kualitas pelayanan administrasi berada pada kategori sangat baik dengan persentase sebesar 84,5%. Sementara itu, tingkat kepuasan masyarakat termasuk dalam kategori baik dengan persentase mencapai 78,2%. Hasil pengujian menggunakan analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa pelayanan administrasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepuasan masyarakat, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi sebesar 0,344, nilai t hitung sebesar 12,556, serta tingkat signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05). Temuan tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas pelayanan administrasi akan diikuti oleh meningkatnya tingkat kepuasan masyarakat pada Kantor Kelurahan Empagae.
Gendered Language, Politeness, and Social Hierarchy in Bugis Communication: A Sociolinguistic Study of Interactional Change in South Sulawesi Nuraini Kasman; Jamaluddin Ahmad; Suleha Suleha; Yayuk Astuti
International Journal of Language Education Vol. 10 No. 3, 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/ijole.v10i3.90050

Abstract

This article aims to find out how gendered language practices in Bugis society are produced, negotiated, and transformed through everyday communication. Moving beyond deficit or binary difference accounts of gendered speech, the study conceptualizes gender as an interactional and relational accomplishment mediated by social status, age, politeness norms, institutional setting, and language choice. The research uses a qualitative sociolinguistic design based on participatory observation, recorded natural conversations, interviews, and field notes involving Bugis community members and local social actors in Laringgi Village. Data were coded thematically with NVivo 12 Plus and interpreted through sociolinguistic theories of indexicality, relational politeness, communities of practice, and Bugis cultural scholarship. The findings show that men and women do not differ linguistically in a fixed or essential manner. Rather, gendered communication is organized through intersecting norms of directness, deference, seniority, authority, and situational formality. Polite Bugis pronouns and clitics such as idi', -ki', and ta-/i- index respect and social distance, whereas iko, -ko, and nu-/mu- tend to signal informality, intimacy, or lower deference. However, gender is often overridden by status and age: educated and institutionally positioned women can speak authoritatively to men, while younger men remain obliged to address older women politely. The study contributes to language and gender research by showing that Bugis gendered speech is best understood as relationally calibrated social practice, not as a simple male-female contrast.