Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS EKSEKUSI PUTUSAN NAFKAH TERUTANG PASCA PERCERAIAN DALAM MENJAMIN HAK EKONOMI ANAK Hotman Sinambela; Mardiman Sane; Panti Silaban; Lamhot Hutahaean; Muhenri Sihotang
Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Vol. 14 No. 1 (2026): Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, April 2026
Publisher : Program Studi Magister Hukum Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/sjp.v14i1.26297

Abstract

Penelitian ini mengkaji efektivitas eksekusi putusan nafkah terutang pasca perceraian dalam menjamin perlindungan hak ekonomi anak. Secara normatif, kewajiban nafkah anak telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, namun dalam praktiknya masih ditemukan berbagai hambatan dalam tahap pelaksanaan putusan. Studi ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yang dipadukan dengan analisis empiris terhadap sejumlah putusan Pengadilan Agama dalam tiga tahun terakhir. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, analisis putusan, serta telaah terhadap hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakefektifan eksekusi lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kepatuhan sukarela, lemahnya mekanisme pemaksaan, hambatan administratif dalam pemotongan gaji, kesulitan penentuan objek eksekusi, serta tidak adanya sistem pengawasan yang terintegrasi. Prosedur eksekusi yang masih mengikuti pola hukum acara perdata umum menyebabkan pemenuhan nafkah anak bersifat lambat dan reaktif, padahal kebutuhan anak bersifat berkelanjutan dan mendesak. Artikel ini menawarkan gagasan penguatan mekanisme eksekusi melalui sistem pemotongan gaji otomatis, integrasi data keuangan, serta reformulasi kebijakan yang berorientasi pada prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Penelitian ini mengkaji efektivitas eksekusi putusan nafkah terutang pasca perceraian dalam menjamin perlindungan hak ekonomi anak. Secara normatif, kewajiban nafkah anak telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, namun dalam praktiknya masih ditemukan berbagai hambatan dalam tahap pelaksanaan putusan. Studi ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yang dipadukan dengan analisis empiris terhadap sejumlah putusan Pengadilan Agama dalam tiga tahun terakhir. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, analisis putusan, serta telaah terhadap hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakefektifan eksekusi lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kepatuhan sukarela, lemahnya mekanisme pemaksaan, hambatan administratif dalam pemotongan gaji, kesulitan penentuan objek eksekusi, serta tidak adanya sistem pengawasan yang terintegrasi. Prosedur eksekusi yang masih mengikuti pola hukum acara perdata umum menyebabkan pemenuhan nafkah anak bersifat lambat dan reaktif, padahal kebutuhan anak bersifat berkelanjutan dan mendesak. Artikel ini menawarkan gagasan penguatan mekanisme eksekusi melalui sistem pemotongan gaji otomatis, integrasi data keuangan, serta reformulasi kebijakan yang berorientasi pada prinsip kepentingan terbaik bagi anak.
Penerapan Diversi Pelaku Tindak Pidana Narkotika terhadap Anak : Studi Putusan Nomor 3/Pid.Sus-Anak/2023/PN.Jkt.Brt Ferderic Imanuel Maruao; Muh Amin Saleh; Muhenri Sihotang
Deposisi: Jurnal Publikasi Ilmu Hukum Vol. 4 No. 3 (2026): September: Deposisi: Jurnal Publikasi Ilmu Hukum
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/deposisi.v4i3.6701

Abstract

This study aims to analyze the application of diversion for a child perpetrator of a narcotics offense in Court Decision Number 3/Pid.Sus-Anak/2023/PN Jkt.Brt, as well as the factors considered by the judge in rendering the verdict. This is a normative legal study of a descriptive-analytical nature, employing statutory, case, conceptual, and historical approaches. The findings indicate that diversion could not be implemented in the case at hand because the penalty prescribed under Article 113 paragraph (2) in conjunction with Article 132 paragraph (1) of Law Number 35 of 2009 concerning Narcotics exceeds the seven-year maximum limit stipulated in Article 7 paragraph (2) of Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System as a prerequisite for diversion; consequently, the child who was actually in an unequal and exploitative power dynamic with an adult perpetrator was processed through the formal judicial system. The study recommends harmonizing the diversion threshold in Law Number 11 of 2012 with the restorative justice threshold in the new Criminal Procedure Code, and highlights the need for affirmative regulations that explicitly acknowledge the status of the child as a victim of criminal exploitation (child criminal exploitation) within organized narcotics offenses.