Gatot Yulianto
Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University, Jl. Agatis, IPB Dramaga Campus, Bogor 16680, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PRIORITY MANAGEMENT OF CORAL REEF ECOSYSTEMS IN POMBO ISLAND NATURE TOURISM PARK, CENTRAL MALUKU REGENCY: PRIORITAS PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI TAMAN WISATA ALAM PULAU POMBO, KABUPATEN MALUKU TENGAH Samsul Bahri Rumasoreng; Fredinan Yulianda; Gatot Yulianto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.231-242

Abstract

The coral reef ecosystem in the Pombo Island Nature Tourism Park area has experienced a decline in quality due to environmentally damaging fishing practices, thereby affecting coral reef productivity. This study aims to identify the actual condition of the coral reef ecosystem by analyzing water quality, the level of live coral cover, and the reef fish species abundance to formulate a main-priority management strategy. Water quality parameters were measured directly, while coral reefs were measured through diving using scuba gear. Coral condition evaluation was carried out using the point intercept transect method, while reef fish abundance was calculated using the underwater visual census technique. Determination of priority strategies for coral reef ecosystem management used the analytic network process approach. The results showed that water quality was considered good to support coral reef ecology. The average coral cover was 47.75% (fair category), with variations between blocks: utilization (24%, poor), rehabilitation (35%, fair), marine protection (57%, good), and traditional (42%, fair). Forty-nine reef fish species from 16 families were found with an abundance of 2,545 individuals per 1,500 m² of observation area, including major, target, and indicator fish, and the species abundance was categorized as high. Coral reef ecosystem restoration can be prioritized through community-based coral transplantation to enhance the effectiveness of both restoration efforts and environmental education.
DEVELOPMENT OF MARINE ECOTOURISM WITH THE APPROACH OF SUITABILITY OF NATURAL RESOURCES AND CARRYING CAPACITY IN CEMARA BEACH, WAKATOBI: PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DENGAN PENDEKATAN KESESUAIAN SUMBERDAYA ALAM DAN DAYA DUKUNG DI PANTAI CEMARA WAKATOBI Ardila Ardila; Fredinan Yulianda; Gatot Yulianto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 1 (2026): FEBRUARY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.38-48

Abstract

Kawasan Pantai Cemara di Pulau Wangi-Wangi memiliki potensi sumber daya hayati yang masih relatif tinggi. Potensi tersebut tercermin dari keberadaan ekosistem terumbu karang, ikan karang, dan perikanan tangkap. Selain berperan penting secara ekologis, ekosistem ini juga menawarkan nilai estetika yang signifikan, menjadikannya aset yang ideal untuk wisata bahari. Namun sampai saat ini pemanfaatan sumberdaya alam belum memiliki aturan terkait pembatasan pengunjung, sehingga menyebabkan degradasi ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelas kesesuaian dan kapasitas daya dukung ekowisata bahari di Pantai Cemara, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, khususnya untuk aktivitas snorkeling dan diving yang dapat dimanfaatkan. Pengumpulan data berdasarkan zona rataan (reef flat) dan zona tubir (reef slope) dipilih secara purposive sampling, yaitu berdasarkan keberadaan dan representasi ekosistem terumbu karang dengan metode manta tow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori ekowisata bahari di lokasi tersebut sangat sesuai dan sesuai dengan tutupan karang hidup berkisar antara 46–76%, jenis life form dan kelimpahan ikan karang menunjang serta kecerahan perairan yang tinggi. Kapasitas daya dukung untuk kegiatan snorkeling adalah 240 orang/hari dengan luas area pemanfaatan sebesar 5,93 ha, sementara kegiatan diving memiliki luas area pemanfaatan 1,83 ha dan kapasitas yaitu 60 orang/hari. Dengan demikian, total kapasitas daya dukung untuk kedua jenis kegiatan tersebut adalah 300 orang/hari. Guna menjaga keberlanjutan terumbu karang dan wisata bahari di Pantai Cemara, perlu dilakukan pengelolaan wisata yang berkelanjutan melalui pembatasan kapasitas pengunjung, zonasi, dan regulasi ketat.