Fredinan Yulianda
Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University, Jl. Agatis, IPB Dramaga Campus, Bogor 16680, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SOCIAL-ECOLOGICAL SYSTEM OF MANGROVE REHABILITATION INITIATIVES: A COMPREHENSIVE STUDY IN BREBES REGENCY, CENTRAL JAVA: SISTEM SOSIAL-EKOLOGI INISIATIF REHABILITASI MANGROVE: STUDI KOMPREHENSIF DI KABUPATEN BREBES, PROVINSI JAWA TENGAH Hery Gunawan Daulay; Fredinan Yulianda; Sulistiono Sulistiono; Luky Adrianto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.265-277

Abstract

Mangrove ecosystem rehabilitation based on a social-ecological systems (SES) approach is a holistic analysis that integrates ecological and social dimensions in coastal restoration and conservation efforts. The success of this rehabilitation is influenced by the complex interaction between environmental biophysical factors and governance dynamics, including government policies, public participation, and local wisdom practices. This study aims to map and analyze the dynamics of SES in a mangrove rehabilitation program. Data were collected using the rapid rural appraisal (RRA) method from June to August 2024. The study results were formulated into a conceptual model of the basic SES network for mangrove rehabilitation in Brebes Regency. The identified network model consists of 85 components (nodes) and 141 causal relationships (links). The research findings indicate that the managing resource actors (RAs) act as the central component (core of the network) that drives the sustainability of rehabilitation activities in the coastal areas of Brebes Regency. The synergy of roles between actors within this SES framework is crucial in increasing the effectiveness and sustainability of the program. It is expected to optimize ecological functions and provide socio-economic added value for coastal communities.
PRIORITY MANAGEMENT OF CORAL REEF ECOSYSTEMS IN POMBO ISLAND NATURE TOURISM PARK, CENTRAL MALUKU REGENCY: PRIORITAS PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI TAMAN WISATA ALAM PULAU POMBO, KABUPATEN MALUKU TENGAH Samsul Bahri Rumasoreng; Fredinan Yulianda; Gatot Yulianto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.231-242

Abstract

The coral reef ecosystem in the Pombo Island Nature Tourism Park area has experienced a decline in quality due to environmentally damaging fishing practices, thereby affecting coral reef productivity. This study aims to identify the actual condition of the coral reef ecosystem by analyzing water quality, the level of live coral cover, and the reef fish species abundance to formulate a main-priority management strategy. Water quality parameters were measured directly, while coral reefs were measured through diving using scuba gear. Coral condition evaluation was carried out using the point intercept transect method, while reef fish abundance was calculated using the underwater visual census technique. Determination of priority strategies for coral reef ecosystem management used the analytic network process approach. The results showed that water quality was considered good to support coral reef ecology. The average coral cover was 47.75% (fair category), with variations between blocks: utilization (24%, poor), rehabilitation (35%, fair), marine protection (57%, good), and traditional (42%, fair). Forty-nine reef fish species from 16 families were found with an abundance of 2,545 individuals per 1,500 m² of observation area, including major, target, and indicator fish, and the species abundance was categorized as high. Coral reef ecosystem restoration can be prioritized through community-based coral transplantation to enhance the effectiveness of both restoration efforts and environmental education.
SUITABILITY AND CARRYING CAPACITY OF MANGROVE ECOTOURISM IN KAMPUNG NIPAH, SEI NAGALAWAN VILLAGE, NORTH SUMATRA: KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA MANGROVE DI KAMPUNG NIPAH, DESA SEI NAGALAWAN, SUMATRA UTARA Nathania Sitompul; Fredinan Yulianda; Ario Damar
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 16 No. 2 (2025): MAY 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.125-135

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang rentan terhadap kerusakan, sehingga upaya konservasi sangat diperlukan. Pengembangan ekowisata mangrove menjadi salah satu upaya pemanfaatan jasa ekosistem secara berkelanjutan tanpa merusaknya. Ekowisata di ekosistem mangrove dianggap dapat berintegrasi dengan upaya konservasi, sehingga mendukung perlindungan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian dan daya dukung ekowisata mangrove di Kampung Nipah, Desa Sei Nagalawan, Sumatra Utara. Penelitian dilakukan pada Juli 2023 di kawasan ekowisata mangrove Kampung Nipah. Lokasi penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling, yang terdiri atas tiga stasiun. Data ekologi dikumpulkan melalui metode transek mangrove untuk memperoleh data primer. Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis indeks kesesuaian wisata (IKW) dan daya dukung kawasan (DDK). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kawasan ekowisata mangrove Kampung Nipah untuk 3 stasiun adalah 1,97; 1,87; dan 1,87; serta DDK sebesar 200 orang per hari. Artinya, secara keseluruhan ekowisata mangrove Kampung Nipah, Desa Sei Nagalawan termasuk ke dalam kategori tidak sesuai. Beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan meliputi memperluas area hutan mangrove sehingga ketebalan ekosistem meningkat dan mempertahankan jumlah kunjungan wisatawan dengan sistem kuota untuk mendukung kelestarian kawasan.
DEVELOPMENT OF MARINE ECOTOURISM WITH THE APPROACH OF SUITABILITY OF NATURAL RESOURCES AND CARRYING CAPACITY IN CEMARA BEACH, WAKATOBI: PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DENGAN PENDEKATAN KESESUAIAN SUMBERDAYA ALAM DAN DAYA DUKUNG DI PANTAI CEMARA WAKATOBI Ardila Ardila; Fredinan Yulianda; Gatot Yulianto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 1 (2026): FEBRUARY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.38-48

Abstract

Kawasan Pantai Cemara di Pulau Wangi-Wangi memiliki potensi sumber daya hayati yang masih relatif tinggi. Potensi tersebut tercermin dari keberadaan ekosistem terumbu karang, ikan karang, dan perikanan tangkap. Selain berperan penting secara ekologis, ekosistem ini juga menawarkan nilai estetika yang signifikan, menjadikannya aset yang ideal untuk wisata bahari. Namun sampai saat ini pemanfaatan sumberdaya alam belum memiliki aturan terkait pembatasan pengunjung, sehingga menyebabkan degradasi ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelas kesesuaian dan kapasitas daya dukung ekowisata bahari di Pantai Cemara, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, khususnya untuk aktivitas snorkeling dan diving yang dapat dimanfaatkan. Pengumpulan data berdasarkan zona rataan (reef flat) dan zona tubir (reef slope) dipilih secara purposive sampling, yaitu berdasarkan keberadaan dan representasi ekosistem terumbu karang dengan metode manta tow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori ekowisata bahari di lokasi tersebut sangat sesuai dan sesuai dengan tutupan karang hidup berkisar antara 46–76%, jenis life form dan kelimpahan ikan karang menunjang serta kecerahan perairan yang tinggi. Kapasitas daya dukung untuk kegiatan snorkeling adalah 240 orang/hari dengan luas area pemanfaatan sebesar 5,93 ha, sementara kegiatan diving memiliki luas area pemanfaatan 1,83 ha dan kapasitas yaitu 60 orang/hari. Dengan demikian, total kapasitas daya dukung untuk kedua jenis kegiatan tersebut adalah 300 orang/hari. Guna menjaga keberlanjutan terumbu karang dan wisata bahari di Pantai Cemara, perlu dilakukan pengelolaan wisata yang berkelanjutan melalui pembatasan kapasitas pengunjung, zonasi, dan regulasi ketat.