Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kesesuaian Pelaksanaan Dinas Jaga Dengan Ketentuan Rest Hours & Fitness For Duty Berdasarkan STCW Section A-VIII/2  : (Studi Kasus: KMP. Dharma Bahari Sumekar III) Damayana Andriella Dita P; Samsul Huda; Bugi Nugraha; Elise Dwi Lestari; Lusia Permata Sari Hartanti
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1774

Abstract

Pelaksanaan dinas jaga merupakan aspek penting dalam menjaga keselamatan pelayaran yang berkaitan erat dengan pengaturan waktu kerja, waktu istirahat (rest hours), serta kondisi kesiapan kerja awak kapal (fitness for duty). Hal ini juga terkait dengan penerapan prinsip K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan) serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menciptakan lingkungan kerja maritim yang aman dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian pelaksanaan dinas jaga dengan ketentuan rest hours dan fitness for duty berdasarkan STCW Section A-VIII/2 di KMP Dharma Bahari Sumekar III. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung selama praktik laut, wawancara dengan nahkoda, perwira, dan awak kapal, serta dokumentasi berupa work and rest hours record, logbook, dan jadwal dinas jaga. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara administratif pelaksanaan dinas jaga telah sesuai dengan ketentuan STCW Section A-VIII/2, dengan sistem pembagian jaga 4 jam kerja dan 8 jam istirahat (4 on–8 off) serta pencatatan rest hours yang memenuhi standar. Namun, dalam praktik masih ditemukan ketidaksesuaian, seperti pertukaran jadwal tanpa persetujuan, keterlibatan dalam pekerjaan tambahan, serta perbedaan antara data administratif dan kondisi aktual. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan (fatigue) yang menurunkan kewaspadaan dan fitness for duty. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan, kesadaran kru, serta penyesuaian beban kerja.
Optimalisasi Penerapan Rest Hour Management Berdasarkan Maritime Labour Convention (MLC) 2006 Untuk Meningkatkan Kinerja Crew Diatas Kapal: (Studi Kasus: MV. Kamadiya) Afdy Febriano; Elise Dwi Lestari; Intan Sianturi; Anugrah Nur Prasetyo
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1790

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Rest Hour Management sesuai Maritime Labour Convention 2006, mengidentifikasi hambatan yang terjadi, serta mengkaji upaya optimalisasi penerapannya dalam meningkatkan kinerja crew di atas kapal MV. Kamadiya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara dengan perwira dan awak kapal, serta studi dokumentasi berupa Record of Hours of Rest dan Table of Shipboard Working Arrangement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Rest Hour Management di MV. Kamadiya pada dasarnya telah mengacu pada Maritime Labour Convention 2006 secara administratif, khususnya mengenai pemenuhan minimal 10 jam istirahat dalam 24 jam dan 77 jam dalam 7 hari, namun belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Rest Hour Management di MV. Kamadiya dalam penerapannya masih ditemukan ketidaksesuaian pada kondisi tertentu, seperti saat kegiatan manuver kapal, gangguan teknis, serta tekanan operasional di pelabuhan yang menyebabkan berkurangnya waktu istirahat awak kapal. Selain itu, kurangnya kesadaran sebagian kru dalam memanfaatkan waktu istirahat secara optimal serta tingginya beban kerja turut menjadi faktor penghambat. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kelelahan (fatigue) dan menurunnya konsentrasi kerja awak kapal.