Sokhifah Hidayah
UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEMECAH KEBUNTUAN DAKWAH FORMAL: ARTIKULASI IMPLISIT PESAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM DAKWAH HUMORIS NING UMI LAILA Sokhifah Hidayah; Arif Chasanul Muna
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 16 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v16i1.19423

Abstract

Agar inti dan tujuan dakwah dapat sampai dengan baik kepada para pendengarnya, maka seorang pendakwah perlu menggunakan teknik yang sesuai dengan karakteristik pendengarnya. Artikel ini membahas bagaimana kreatifitas dai dalam mengemas pesan ayat al-Quran dengan teknik humor dalam dakwah. Peneliti selanjutnya berupaya menganalisa posisi dan fungsi model dakwah humoris dalam kontestasi model-model dakwah di Indonesia yang beragam. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan metode analisis Inductive Category Development (ICD) yang digagas oleh Philipp Mayring. Sumber primer penelitian ini berasal dari video-video Ning Umi Laila di YouTube, khususnya pada channel YouTube Ning Umi Laila. Temuan penelitian ini yaitu 1) Upaya dai dalam mengemas pesan ayat al-Quran dalam bentuk humor merupakan kecerdasan-kreatifitas dakwah dalam upaya mencari titik temu antara sumber materi dakwah yang formal dengan sasaran dakwah yang beragam dan dinamis. Materi dakwah berupa pesan ayat Al-Qur’an sering kali dikemas oleh Laila secara implisit-humoris untuk memberikan kesan dakwah yang ringan dan santai 2). Posisi dan fungsi dakwah humoris menempati posisi yang strategis dan efektif, karena: a) mampu mengakomodasi aspek entertain dalam dakwah, yang dalam hal ini penulis istilahkan sebagai entertain cum dakwah; b) menjadi alternatif bagi dakwah yang keras, kaku, dan cenderung radikal serta ekstrem; c). Dakwah humoris menjadi dakwah yang lebih humanis dan mampu mangakomodir kearifan lokal serta budaya Indonesia.
Perbedaan dalam Kebersamaan: Pembacaan Doa Pasca Meninggal Lintas Iman di Desa Cisantana Kabupaten Kuningan Jawa Barat Sokhifah Hidayah; Dwi Aryanti; Muhammad Fadilah; Reskika Putri Pasund; Nabila Rahmatul Husna; Alwi Ibrahim Lubis; Wisnu Uriawan; Aep Kusnawan
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3888

Abstract

The paper explores the practice of religious moderation in Cisantana village, Kuningan, West Java through the practice of interfaith post-death prayers. This research highlights a series of funeral events starting from the announcement of the news of death to post-death prayers. Qualitative methods were used in this study to gain an in-depth and comprehensive understanding. This research design refers to ethnographic research that allows researchers to participate and directly observe the phenomenon. Research data in addition to participatory observation was also collected through in-depth interviews with the community. While the data analysis technique used is content analysis technique. The findings of this research are: (1) interfaith prayer began because of the diversity of religions that exist in one family as well as ancestral heritage; (2) the phenomenon of interfaith prayer is an effort of the Cisantana hamlet community in maintaining harmony in the midst of diversity; (3) the phenomenon of interfaith prayer is a manifestation of a high sense of brotherhood and a form of implementation of the 3 main Sundanese teachings namely silih asah (learning from each other), silih asih (caring for each other), silih asuh (loving each other).[Tulisan mengeksplorasi praktik moderasi beragama masyarakat desa Cisantana, Kuningan, Jawa Barat melalui praktik doa pasca meninggal lintas iman. Penelitian ini menyoroti serangkaian acara pemakaman mulai dari pengumuman berita meninggal hingga doa pasca meninggal. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan komprehensif. Desain penelitian ini mengacu pada penelitian etnografi yang memungkinkan peneliti untuk berpartisipasi dan mengamati secara langsung fenomena tersebut. Data penelitian selain melalui observasi partisipatif juga dihimpun melalui wawancara mendalam kepada masyarakat. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis isi (content analysis). Temuan penelitian ini berupa: (1) doa lintas iman bermula karena keragaman agama yang ada dalam satu keluarga sekaligus merupakan warisan leluhur; (2) fenomena doa lintas iman merupakan upaya masyarakat dusun Cisantana dalam merawat kerukunan di tengah keragaman; (3) fenomena doa lintas iman merupakan perwujudan dari tingginya rasa persaudaraan dan bentuk implementasi dari 3 pokok ajaran Sunda yaitu silih asah (saling belajar), silih asih (saling peduli), silih asuh (saling menyayangi).]