Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tantangan Implementasi Evidence-Based Practice dalam Praktik Kefarmasian: Narrative Review Tisa Zadya Rio; Dwi Aulia Ramdini; Ihsanti Dwi Rahayu; Asep Sukohar
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 3 (2026): Mei-Jun
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i3.769

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dalam sistem kesehatan yang berorientasi pada penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Evidence-based practice (EBP) menjadi hal yang krusial dalam pengambilan keputusan klinis dalam mendukung pengobatan yang rasional, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala, baik dari aspek individu, lingkungan, maupun dukungan sistem pelayanan. Narrative review ini bertujuan untuk menyediakan informasi terkait dengan berbagai faktor hambatan implementasi EBP dalam praktik kefarmasian. Artikel ditelusuri melalui database Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci yang relevan, dengan batasan tahun publikasi 2019–2025. Total hasil penelusuran artikel diperoleh sebanyak 10 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu tersedia dalam bentuk full-text, open access, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta relevan dengan topik penerapan EBP dalam pelayanan kefarmasian. Hasil narrative review ini menunjukkan bahwa penerapan EBP dalam praktik kefarmasian masih belum optimal. Hambatan utama dalam penerapan EBP meliputi faktor individu tenaga kefarmasian, faktor lingkungan kerja, serta akses dan pemanfaatan sumber informasi berbasis bukti. Oleh karena itu, diperlukan upaya komprehensif melalui peningkatan kompetensi tenaga kefarmasian, dukungan lingkungan kerja yang kondusif, serta penyediaan sumber informasi yang mudah diakses untuk mengoptimalkan penerapan EBP dalam pelayanan kefarmasian.
Identifikasi Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Teknik Penetesan Obat Tetes Mata: Literature Review Anisah Putri Yuana Sari; Rani Himayani; Dwi Aulia Ramdini; Nurma Suri
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 3 (2026): Mei-Jun
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i3.816

Abstract

Kesalahan dalam melakukan teknik penetesan obat tetes mata masih sering terjadi pada pasien dengan gangguan kesehatan mata. Kesalahan tersebut berisiko menurunkan efektivitas terapi serta dapat meningkatkan efek samping. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan ketepatan teknik penetesan obat tetes mata. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Science Direct, dan PubMed dengan tahun terbit 2016 – 2026. Hasil seleksi literatur menunjukkan terdapat 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa usia yang lebih tua secara konsisten berhubungan signifikan dengan kegagalan teknik penetesan. Penurunan fungsi visual turut memperburuk kemampuan pasien dalam melakukan teknik penetesan. Kondisi fisik dan motorik juga berhubungan signifikan dengan teknik penetesan. Selain itu, penurunan fungsi kognitif serta faktor perilaku dan sosial juga terbukti berhubungan dengan teknik penetesan. Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam menciptakan intervensi berupa edukasi, penilaian kondisi pasien, serta peningkatan peran caregiver untuk mendukung keberhasilan teknik penetesan obat tetes mata
Identifikasi Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Frekuensi Eksaserbasi dan Rawat Inap pada Pasien PPOK : Literature Review Fidela Yolan Dani; Atri Sri Ulandari; Dwi Aulia Ramdini; Rani Himayani
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.845

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) ditandai dengan hambatan aliran udara kronis yang sering mengalami eksaserbasi akut dan memerlukan rawat inap. Kejadian rawat inap ulang (readmission) menjadi masalah utama dalam manajemen penyakit ini karena meningkatkan risiko mortalitas. Temuan dalam literature review ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 mengenai Good Health and Well-being melalui upaya penurunan kematian dini akibat penyakit tidak menular (Target 3.4), peningkatan cakupan pelayanan kesehatan (Target 3.8), pengurangan dampak polusi udara terhadap kesehatan (Target 3.9), serta SDG 11 mengenai pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan melalui pengendalian kualitas udara. Tujuan: Literature review ini bertujuan menelaah penelitian ilmiah terkini mengenai determinan yang memengaruhi kejadian eksaserbasi dan rawat inap pada pasien PPOK. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan sumber data artikel original research dari Google Scholar dan PubMed dalam rentang waktu 2017-2025. Terdapat 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk ditelaah secara kritis. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa rawat inap dipengaruhi oleh faktor demografi seperti usia, jenis kelamin laki-laki, dan riwayat merokok. Pada faktor klinis, keberadaan komorbiditas (jantung dan diabetes), derajat keparahan (FEV1%, skor BODE/CAT), serta lama menderita PPOK menjadi prediktor utama. Penelitian lain menunjukkan peran kadar eosinofil rendah (< 2%), peningkatan indikator inflamasi, serta faktor psikososial yang mencakup keterbatasan aktivitas harian (BADL) dan kurangnya dukungan keluarga dalam meningkatkan frekuensi rawat inap. Simpulan: Eksaserbasi dan rawat inap PPOK dipengaruhi oleh faktor demografi, kondisi klinis, biomarker, dan dukungan sosial. Manajemen pasien memerlukan penanganan pada aspek medis paru, penyakit penyerta, serta penguatan dukungan perawatan di rumah.