Gelombang Panas Laut (GPL) merupakan fenomena ekstrem yang frekuensi, durasi, dan intensitasnya meningkat sebagai respons terhadap pemanasan global akibat aktivitas antropogenik. Selat Karimata, sebagai wilayah strategis dalam sistem lintas laut Indonesia, sangat rentan terhadap anomali termal ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik spasial dan temporal GPL di perairan Selat Karimata selama periode 1992-2024. Analisis dilakukan menggunakan data Suhu Permukaan Laut (SPL) harian resolusi tinggi dari Operational Sea Surface Temperature and Ice Analysis (OSTIA). Deteksi kejadian GPL dilakukan dengan pendekatan ambang klimatologis berbasis persentil ke-90, dengan durasi minimum lima hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selat Karimata mengalami rata-rata 2-3 kejadian GPL per tahun dengan durasi sekitar 10 hari dan intensitas maksimum mencapai 1,34 °C di atas ambang klimatologis. Temuan utama menunjukkan adanya tren peningkatan durasi GPL yang signifikan sebesar 11,5 hari per dekade, serta peningkatan frekuensi sebesar 1,1 kejadian per dekade. Secara temporal, kejadian GPL terpanjang dan terkuat terjadi pada tahun 1998 dan 2016, yang berkorelasi erat dengan fenomena El Niño kuat. Secara spasial, wilayah selatan Selat Karimata menunjukkan intensitas dan durasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Selain itu, kejadian GPL berdurasi panjang dan berintensitas tinggi lebih dominan di wilayah pesisir dan laut semi-tertutup. Peningkatan signifikan pada parameter GPL ini mengindikasikan tekanan termal yang semakin besar pada ekosistem laut di Selat Karimata. Temuan ini menegaskan bahwa Selat Karimata merupakan wilayah yang rentan terhadap tekanan termal laut, dengan implikasi signifikan terhadap ekosistem pesisir dan pengelolaan perikanan (WPPNRI) 711 dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa depan.