Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pola Komunikasi Antarbudaya Etnik Bajo dan Etnik Sikka Kelurahan Wolomarang Kabupaten Sikka Rosina Mardiana Eman; Blajan Konradus; Yeheskial A Roen
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 5 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v5i1.6348

Abstract

This study analyzes communication patterns among the Bajo and Sikka ethnic groups in Wolomarang Village, Sikka Regency. The focus of this study is the patterns and dynamics of convergence and divergence in communication among the Bajo and Sikka ethnic groups in terms of social adaptation. Ethnographic methods were used because they enable researchers to understand the daily habits and interactions between the Bajo and Sikka ethnic communities that can be observed. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study show that communication patterns are formed through continuous interactions in various areas of life, such as markets, residential environments, social activities, and religious activities. The patterns that emerge are generally open, adaptive, and accommodating, reflecting harmonious relationships despite cultural differences.  Convergence is evident through adjustments in speech patterns, language use, and social behavior to achieve mutual understanding, especially with the use of Indonesian as a lingua franca in public interactions. Divergence is seen when each ethnic group maintains its own language and distinctive communication characteristics. The Bajo ethnic group uses the Bajo language in internal interactions and exhibits a soft and religious style of speech, while the Sikka ethnic group uses the Sikka language with a firm and expressive communication style. Social adaptation is reflected in functional bilingualism and mixed family practices that combine values, languages, and traditions with mutual respect.
REVITALISASI NILAI BUDAYA DAN KEAGAMAAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Yeheskial A Roen; Lenny Biremanoe; Jim B. Kolianan
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 3 (2025): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v7i3.18588

Abstract

Tingginya prevalensi stunting di Kabupaten Rote Ndao menuntut pendekatan intervensi yang inovatif dan kontekstual. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memperkuat upaya pencegahan stunting di Jemaat GMIT Efata Lekioen melalui revitalisasi dan integrasi nilai-nilai budaya lokal serta ajaran keagamaan. Metode yang digunakan adalah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan pendekatan partisipatif yang diimplementasikan melalui workshop bersama pemuda-pemudi gereja. Pengumpulan data dilakukan melalui pre-test/post-test dan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD), yang kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil dan pembahasan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta secara signifikan mengenai stunting. Kegiatan ini berhasil mengidentifikasi nilai-nilai budaya kunci seperti gotong royong dan tradisi menyusui jangka panjang, serta nilai keagamaan seperti pelayanan kasih (diakonia), yang kemudian direvitalisasi menjadi dasar pengembangan luaran program. Luaran utama yang dihasilkan adalah "Buku Saku Pencegahan Stunting" dan "Model Pendampingan Berbasis Gereja" yang relevan secara budaya dan spiritual. Pembahasan menekankan bahwa pendekatan ini berhasil memberdayakan pemuda sebagai agen perubahan dan menumbuhkan rasa kepemilikan komunitas. Kesimpulan & rekomendasi dari kegiatan ini adalah bahwa revitalisasi nilai endogen merupakan strategi efektif untuk program kesehatan berbasis komunitas. Disarankan agar gereja melembagakan model yang telah dikembangkan ke dalam program pelayanannya untuk menjamin keberlanjutan.