Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Peningkatan Gelar Satuan Artileri Medan Guna Mendukung Keamanan Pulau Terdepan di Kalimantan Utara Dalam Rangka Memperkokoh Pertahanan Negara Samsuddin Samsuddin; Deni Dadang A R; Dwi Hartono
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8107

Abstract

Pulau-pulau terdepan di Kalimantan Utara memiliki nilai strategis yang tinggi bagi kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, kondisi geografis yang kompleks, keterbatasan sarana pertahanan, serta dinamika ancaman lintas batas menuntut adanya strategi pertahanan yang adaptif dan terukur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan gelar satuan Artileri Medan (Armed) dalam mendukung keamanan wilayah terdepan Kalimantan Utara sebagai bagian integral dari sistem pertahanan negara. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta studi dokumentasi pada satuan Armed dan komando kewilayahan terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menitikberatkan pada aspek doktrin, organisasi, personel, alutsista, dan strategi operasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi gelar satuan Armed di wilayah Kalimantan Utara memerlukan sinergi antara penataan postur pertahanan, modernisasi alutsista, serta penguatan kerja sama lintas matra dan lintas instansi. Selain itu, beberapa interpretasi data dalam gelar satuan seperti Kesiapan operasional satuan, kondisi personel dan kompetensi teknis, kondisi Alutsista dan sarana pendukung serta aspek logistik dan infrastruktur. Peningkatan gelar satuan Armed bukan hanya memperkuat daya tangkal militer, tetapi juga berperan sebagai bentuk kehadiran negara di wilayah perbatasan. Kesimpulannya, penguatan dan penempatan satuan Armed di Kalimantan Utara tidak dapat dipersepsikan semata sebagai langkah taktis-operasional, melainkan harus dipahami sebagai bagian integral dari perencanaan strategis pertahanan negara. Selain itu, strategi peningkatan gelar satuan Armed merupakan langkah untuk memperkokoh pertahanan negara dan menjaga stabilitas keamanan di pulau-pulau terdepan Kalimantan Utara. 
Strategi Peningkatan Peran Dokter Batalyon Infanteri 512/Quratara Yudha Dalam Pencegahan Malaria di Daerah Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini Arief Rahman; Deni Dadang; Dwi Hartono
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8968

Abstract

Wilayah pengamanan perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG) merupakan kawasan strategis dengan kondisi geografis yang berat, keterbatasan infrastruktur, serta tingkat endemisitas malaria yang tinggi. Kondisi tersebut menjadikan malaria sebagai ancaman kesehatan yang dapat memengaruhi kesiapan tempur prajurit dan efektivitas pelaksanaan tugas pengamanan perbatasan. Dalam situasi ini, Dokter Batalyon Infanteri 512/Quratara Yudha memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan prajurit dan mendukung keberhasilan operasi satuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pencegahan malaria yang diterapkan oleh dokter batalyon, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya, serta merumuskan strategi untuk meningkatkan peran dokter batalyon dalam pencegahan malaria di wilayah perbatasan RI–PNG. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dokter batalyon telah melaksanakan berbagai upaya pencegahan malaria melalui edukasi kesehatan, pemberian kemoprofilaksis, penggunaan kelambu berinsektisida, pengendalian lingkungan, serta deteksi dini kasus malaria. Namun, pelaksanaan strategi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan sarana dan logistik kesehatan, kondisi geografis yang sulit dijangkau, serta faktor sosial budaya masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan peran dokter batalyon memerlukan dukungan kebijakan, penguatan kapasitas sumber daya kesehatan, pengembangan sistem pencegahan yang terintegrasi, serta kolaborasi antara unsur militer dan sipil. Selain itu, diperlukan penguatan surveilans kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta optimalisasi logistik untuk meningkatkan efektivitas pencegahan malaria. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesehatan prajurit, melindungi masyarakat perbatasan, dan mendukung ketahanan pertahanan negara di wilayah RI–PNG
Implementasi Peran Kodim 1605/Belu dalam Mengelola Potensi Wilayah Pertahanan Perbatasan Darat Nusa Tenggara Timur - Timor Leste Widiyatmoko Widiyatmoko; Deni Dadang AR; Dwi Hartono
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. 6 No. 1 (2026): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmh.v6i1.1942

Abstract

This study addresses the gap between the normative role of district military commands (Kodim) within Indonesia’s universal defense system and the persistent socio-economic and security challenges in land border areas. Border regions such as Belu-Malaka continue to face underdevelopment, poverty, and non-traditional threats, which potentially weaken territorial resilience. The research aims to analyze how Kodim 1605/Belu implements its role in managing territorial potential to strengthen border defense and community resilience along the Indonesia-Timor Leste land border. A qualitative case study approach was employed, with data collected through in-depth interviews with military personnel, local government officials, and community leaders, complemented by field observations and document analysis. Data were analyzed using an interactive model involving data reduction, thematic categorization, and contextual interpretation. The findings indicate that Kodim 1605/Belu has played a constructive role through integrated territorial development programs, including infrastructure support, community empowerment, and the cultivation of national defense awareness. These efforts have contributed to social cohesion and early threat detection at the community level. However, structural constraints such as limited resources, coordination gaps with civilian agencies, and geographical challenges remain significant. Strengthening inter-agency synergy and institutional integration is therefore essential to ensure the sustainability and effectiveness of territorial defense management in border areas.