Sarah Nadia Hsb
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Kulit Kemiri Menjadi Briket Arang di Desa Sarinembah, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo Niswa Mawaddah; Sarah Nadia Hsb; Abdul Aziz Hasibuan; Nadia Rahma; Muhammad Rafif Syauqi Al Hadi; Taufik Hidayat; Idris Sadri
Al Khidma: Jurnal Pengabdian Masyarakat Al Khidma Vol. 6 No. 1 Januari - Maret 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/ak.v6i1.5798

Abstract

Pengelolaan sampah merupakan persoalan penting yang tengah dihadapi oleh masyarakat Desa Sarinembah, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan hasil kegiatan sosialisasi mengenai pemanfaatan sampah menjadi briket di Desa Sarinembah. Upaya ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosialisasi langsung kepada masyarakat Desa Sarinembah. Tim pelaksana menjelaskan mengenai manfaat pengolahan sampah menjadi briket, teknik yang dapat diterapkan, serta potensi ekonomi yang muncul dari kegiatan tersebut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman warga mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Sebagian besar masyarakat memperlihatkan antusiasme dan ketertarikan dalam mengadopsi teknik pembuatan briket dari sampah. Pendekatan ini juga terbukti mampu membuka kesempatan kerja baru serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian desa. Namun demikian, terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan program, seperti keterbatasan infrastruktur dan perlunya sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, serta pihak-pihak terkait lainnya. Pemanfaatan teknologi tepat guna dengan menggunakan mesin sederhana yang efektif menjadi salah satu solusi yang dibahas agar program dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan positif dalam memberdayakan masyarakat Desa Sarinembah untuk mengelola sampah secara berkelanjutan. Selain itu, hasil kajian ini juga dapat dijadikan rujukan oleh pemerintah desa maupun lembaga non-pemerintah dalam menyusun program sejenis di wilayah lain.
Social Interaction, Social Recognition, and Fear of Missing Out among Beginner Climbers on Mount Sibayak Sarah Nadia Hsb; Yummy Jumiati Marsa
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol. 10 No. 2 (2026): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v10i2.434

Abstract

This study examines social interactions among climbers, the dynamics of social recognition, and the influence of Fear of Missing Out (FOMO) on novice climbers’ decision-making in participating in climbing activities at Mount Sibayak. Mountain climbing has developed not only as a recreational and sporting activity but also as a space for social interaction and identity formation within climbing communities. This study employed a qualitative approach using a case study method. The participants consisted of ten novice climbers, comprising six females and four males, who were selected through purposive sampling. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation and analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that social interaction among novice climbers is formed through communication, information exchange, cooperation, mutual assistance, and participation in collective activities. These interactions facilitate adaptation, social acceptance, and the development of a sense of belonging within the climbing community. Social media also plays an important role by providing exposure to climbing experiences, encouraging social comparison, and facilitating the pursuit of social recognition through digital responses. Such conditions contribute to the emergence of FOMO, particularly when novice climbers perceive themselves as being left behind by their peers' activities and experiences. Furthermore, FOMO influences decision-making by encouraging novice climbers to participate in climbing activities in order to maintain social involvement, obtain similar experiences, and avoid feelings of exclusion. The study concludes that FOMO among novice climbers is not solely associated with social media use but also emerges from the interaction between digital experiences, social recognition, social comparison, and direct involvement in the climbing community. Therefore, participation decisions should remain grounded in physical preparedness, adequate planning, and safety considerations.