Menanamkan kesadaran pengelolaan sampah anorganik sejak usia dini sangat penting, namun banyak anak usia taman kanak-kanak belum terbiasa membuang sampah anorganik pada tempatnya. Penelitian ini memaparkan bagaimana sebuah taman kanak-kanak di Indonesia membangun kolaborasi guru dan orang tua untuk menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan pada anak usia dini. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berbasis kajian praktik baik di TK ABA Percontohan, dengan pengumpulan data pada 2–25 September 2026 melalui observasi terhadap 50 murid serta wawancara dengan lima orang tua dan guru, yang dianalisis secara tematik dan diperiksa melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 murid, baru sekitar 15 murid yang konsisten membuang sampah anorganik pada tempatnya. Empat faktor yang tampak saling berkaitan memengaruhi kondisi ini, yaitu kebiasaan dari rumah, karakteristik perkembangan usia dini, belum adanya kebijakan budaya bersih yang menyeluruh, serta keterbatasan sarana. Sebagai respons, sekolah menerapkan tiga strategi yang saling menguatkan, yaitu parenting day, unit bank sampah anorganik, dan penugasan membawa sampah dari rumah setiap hari Jumat untuk dipilah di sekolah dan disetorkan ke bank sampah setiap bulan melalui prosedur tiga langkah. Namun, wawancara dengan guru menunjukkan bahwa program belum sepenuhnya efektif karena tidak semua anak mau memilah dan membuang sampah pada tempat yang disediakan. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan pengelolaan sampah pada anak usia dini berpotensi lebih efektif ketika perencanaannya menghubungkan kebiasaan keluarga, kegiatan yang sesuai tahap perkembangan anak, prosedur kelembagaan, dan sarana yang memadai. Sebagai studi deskriptif pada satu sekolah, temuan ini bersifat kontekstual dan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah lain yang menghadapi persoalan serupa.