Education plays a crucial role in shaping future generations, not only through formal schooling but also through active parental involvement. Despite Indonesia's improved PISA 2022 ranking to 63rd place, the scores in reading, mathematics, and science have declined, highlighting the need to enhance the quality of learning. In response to 21st-century challenges, students must be equipped with critical thinking, creativity, problem-solving abilities, and digital literacy. Mathematics, as a subject that fosters logical thinking and problem-solving skills, is often perceived as difficult and uninteresting by students. To overcome this issue, the Problem-Based Learning (PBL) model is applied, especially when combined with an ethnomathematics approach that integrates local culture into the learning process, making it more meaningful and relevant. This study aims to investigate the effect of the ethnomathematics-based PBL model on the problem-solving abilities of fourth-grade students at SDN Gugus XIV in Bengkulu City. A quantitative research method was employed using a quasi-experimental design: Matching Only Pretest-Posttest Control Group Design. The sample included fourth-grade students from SDN 45 and SDN 42. Data were collected through essay tests using pretest and posttest techniques and analyzed using a t-test. The results showed a significant difference with a Sig. (2-tailed) = 0.000 < 0.05, and the average score of the experimental class (80.84) was higher than the control class (62.43). The t-test result (tcount = 5.008 > ttable = 1.683) indicates that the PBL model based on ethnomathematics significantly improves students’ problem-solving abilities. It is recommended that further research be conducted to explore the effectiveness of this model across different cultural contexts.Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi masa depan, tidak hanya melalui sekolah tetapi juga melalui keterlibatan orang tua. Meskipun peringkat PISA Indonesia 2022 naik ke posisi 63, skor literasi membaca, matematika, dan sains justru menurun, menandakan perlunya peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam menghadapi tantangan abad ke-21, peserta didik perlu dibekali keterampilan berpikir kritis, kreatif, mampu memecahkan masalah, serta melek digital Ashari Hamzah et al., (2023:1). Matematika sebagai pelajaran yang melatih logika dan pemecahan masalah seringkali dianggap sulit dan membosankan oleh siswa. Banyak dari mereka kesulitan dalam memahami soal cerita, merumuskan strategi, hingga mengevaluasi jawaban. Untuk mengatasi hal ini, model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) dapat diterapkan karena terbukti efektif meningkatkan pemahaman konsep, pemikiran kritis, dan keterampilan memecahkan masalah. Pendekatan ini akan semakin bermakna bila dikaitkan dengan konteks budaya lokal melalui etnomatematika, yang mengaitkan pembelajaran matematika dengan kebudayaan daerah, seperti yang terbukti efektif di Provinsi Bengkulu. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar siswa tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem-Based Learning (PBL) berbasis etnomatematika terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas IV SDN Gugus XIV Kota Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan eksperimen semu menggunakan desain Matching Only Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian adalah SDN Gugus XIV Kota Bengkulu, dengan sampel kelas IV SD Negeri 45 dan kelas IVA SD Negeri 42 Kota Bengkulu. Instrumen penelitian berupa tes uraian dengan teknik pretest dan posttest. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif, data yang diperoleh dari penelitian ini diuji dengan uji beda dua rata-rata (uji-t). Analisis data dilakukan secara deskriptif, uji prasyarat, dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05 dengan rata-rata kelas eksperimen 80,84 dan kelas kontrol 62,43. Uji-t menunjukkan thitung > ttabel (5,008 > 1,683), hal ini dikarenakan perlakuan kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model PBL berbasis etnomatematika berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa kelas IV SDN Gugus XIV Kota Bengkulu. Disarankan agar penelitian ini terus dikembangkan untuk menguji efektivitas model Problem-Based Learning berbasis etnomatematika dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas IV pada mata pelajaran matematika di berbagai konteks dan wilayah budaya yang berbeda.