Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman peserta dan nilai kemanfaatan lokakarya membatik berdasarkan relief Candi Merak dan Candi Sojiwan bagi masyarakat Desa Karangnongko dan Desa Kebondalem Kidul, Kabupaten Klaten. Pengabdian kepada masyarakat ini didasari oleh rendahnya kesadaran masyarakat sekitar cagar budaya terhadap nilai historis, simbolik, dan potensi ekonomi Candi Merak dan Candi Sojiwan, serta masih terbatasnya semangat kewirausahaan berbasis budaya lokal. Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan dalam bentuk lokakarya membatik berdasarkan relief Candi Merak dan Candi Sojiwan ini penting dikarenakan cagar budaya memiliki potensi strategis sebagai sumber pengembangan culturepreneurship yang berkelanjutan melalui integrasi pelestarian budaya dan ekonomi kreatif. Metode pengabdian meliputi penyampaian materi tentang cagar budaya dan culturepreneurship, pelatihan membatik tulis dan cap, pendampingan proses pewarnaan, evaluasi kegiatan, serta diseminasi hasil melalui peragaan busana dan pementasan kesenian. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan sekitar 31% dalam pemahaman peserta terhadap nilai cagar budaya, peningkatan sekitar 20% dalam keterampilan membatik, serta pembentukan kelompok pembatik lokal yang berpotensi menjadi penggerak culturepreneurship. Temuan ini menegaskan bahwa lokakarya berbasis warisan budaya efektif sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dan relevan untuk dikembangkan sebagai model pengabdian berkelanjutan di kawasan cagar budaya. Kata kunci: cagar budaya; Candi Merak; Candi Sojiwan; culturepreneurship; lokakarya membatik