Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsumsi Junk Food dan Asupan Serat terhadap Status Gizi Remajadi SMP Negeri 9 Palu Ayu Sri Wahyuni; Sri Rezeki Pettalolo; Ni Ketut Kariani
Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi Vol. 3 No. 4 (2025): November: Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/antigen.v3i4.931

Abstract

Background: Adolescence is a crucial stage of human development, during which adequate and balanced nutrition plays an important role in supporting growth and maintaining long-term health. At this age, eating habits begin to form, yet many adolescents tend to choose fast food, which generally has low nutritional value. Such foods are typically high in fat, sugar, and salt, but low in fiber from fruits and vegetables, potentially affecting their nutritional status. This study aims to examine the relationship between the frequency of Junk Food consumption and fiber intake with the nutritional status of students at SMP Negeri 9 Palu. This research employed an analytical quantitative approach using a cross-sectional design, involving a population of 97 students. Data were collected through the SQ-FFQ questionnaire to assess Junk Food consumption, 3×24-hour dietary recalls to measure fiber intake, and anthropometric measurements to determine nutritional status. Data analysis was conducted using the chi-square test. The results indicated a significant relationship between Junk Food consumption and nutritional status (p < 0.05). In contrast, fiber intake showed no meaningful association (p > 0.05), possibly because most respondents had similarly low fiber intake, resulting in insufficient variation to influence nutritional status. Other factors such as total energy intake, physical activity, and sleep patterns may also contribute to adolescents’ nutritional conditions. These findings highlight the importance of nutrition education in schools and the role of parents in monitoring adolescents’ eating habits. Further research with a larger sample size and more detailed dietary assessment methods is recommended to obtain more comprehensive results.  
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Sumber Natrium dan Kalium Terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah Monica Gracella Muaya; Sri Rezeki Pettalolo; Adillah Imansari
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i2.4016

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang prevalensinya mengalami peningkatan dan penurunan di provinsi Sulawesi Tengah, secara khusus di Kota Palu terus meningkat dan ini menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Pola konsumsi tinggi natrium dan rendah kalium diketahui berperan penting dalam peningkatan tekanan darah, sehingga perlu diteliti hubungan kebiasaan konsumsi natrium dan kalium terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 57 pasien hipertensi yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner karakteristik, gaya hidup dan riwayat kesehatan, serta SQ-FFQ untuk mengukur asupan natrium dan kalium, sedangkan data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan konsumsi natrium dengan tekanan darah (p=0,001), yaitu responden dengan konsumsi natrium lebih cenderung mengalami hipertensi. Selain itu, terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan konsumsi kalium dengan tekanan darah (p=0,001), yaitu responden dengan konsumsi kalium kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang konsumsi kaliumnya cukup. Pola konsumsi natrium dan kalium berperan penting dalam pengendalian tekanan darah. Edukasi gizi mengenai pembatasan konsumsi natrium serta peningkatan asupan kalium melalui buah, sayur, dan pangan lokal perlu ditingkatkan sebagai strategi non-farmakologis dalam pencegahan dan penanganan hipertensi.