Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konstruksi Trauma Dan Proses Healing Tokoh Utama Dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Rofi’ati Nur Diana Islam; Harsono Harsono
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.808

Abstract

Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk konstruksi trauma dan proses healing yang dialami Ale, tokoh utama dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pengalaman traumatis membentuk kondisi psikologis tokoh serta bagaimana proses pemulihan dirinya berlangsung secara bertahap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Sumber data berupa kutipan-kutipan dalam novel yang menunjukkan pengalaman trauma dan proses healing tokoh Ale. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk konstruksi trauma dan proses healing berdasarkan teori psikoanalisis Freud, khususnya konsep represi, kecemasan, dan alam bawah sadar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma Ale terbentuk akibat tekanan keluarga, kekerasan verbal, penolakan sosial, serta pengkhianatan dari lingkungan sekitarnya. Pengalaman tersebut direpresi ke alam bawah sadar dan memunculkan depresi, kecemasan, rasa rendah diri, serta kesulitan menjalin hubungan interpersonal yang sehat. Selain itu, penelitian ini juga menemukan adanya proses healing yang dialami Ale melalui pertemuan dengan tokoh seperti Murad, Juleha, Mami Luisse, Bu Murni, Pak Uju, dan Pak Jipren. Pertemuan tersebut membantu Ale menghadapi trauma masa lalu, mengurangi konflik batin, serta membangun kembali rasa percaya terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
Peningkatan Keterampilan Wawancara Kontekstual Melalui Interaksi Siswa Dan Google Gemini Di SMP Negeri 1 Tlanakan Habiburrahman Habiburrahman; Rofi’ati Nur Diana Islam; Nadia Fitri; Halilatur Rohemah
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.876

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif dan mendalam mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), secara spesifik menggunakan platform Google Gemini, sebagai instrumen pewawancara simulatif guna melatih dan meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa SMP kelas 9. Mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, studi ini melibatkan 30 siswa dan satu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Tlanakan. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen yang holistik, mencakup pre-test kognitif, observasi terstruktur terhadap delapan indikator kinerja berbicara, angket persepsi siswa (terbuka dan tertutup), serta wawancara mendalam dengan pendidik untuk memetakan realitas sosiologis kelas. Hasil analisis data menunjukkan integrasi Google Gemini secara signifikan mampu mereduksi speaking anxiety atau rasa gugup siswa, sekaligus mengakselerasi minat dan motivasi belajar melalui interaksi mesin dengan manusia yang tidak menghakimi. Penggunaan tema kontekstual lokal, yakni isu kebersihan Pantai Desa Branta Pesisir, terbukti relevan dalam mendekatkan materi pembelajaran dengan realitas kehidupan siswa yang didominasi oleh latar belakang keluarga nelayan dan pekerja pasar. Simpulan dari riset ini menegaskan bahwa penggunaan AI berdampak krusial terhadap dinamika kelas. AI tidak sekadar berfungsi sebagai alat bantu teknis, melainkan bertindak sebagai katalisator yang berhasil "membangunkan" siswa dari demotivasi, memfasilitasi tutor sebaya dalam kelompok heterogen, dan memberikan solusi taktis atas keterbatasan fasilitas fisik sekolah akibat isu keamanan. Inovasi ini meredefinisi paradigma pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih partisipatif, interaktif, dan berpusat pada siswa.