Assyifa Maulida
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konstruksi Makna Desa Wisata dalam Wacana Komunikasi Masyarakat Lokal: Studi Fenomenologi di Desa Belangian, Kalimantan Selatan Assyifa Maulida; Uud Wahyudin; Gumgum Gumilar; Yanti Setianti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8369

Abstract

This study aims to explain how the people of Belangian Village construct the meaning of a tourism village within their everyday communication. Grounded in a social constructivist paradigm, it employs a qualitative phenomenological approach with villagers directly and indirectly involved in tourism, selected through purposive sampling. Data were collected via semi structured in depth interviews, participant observation during extended residence in the village, and documentation of local archives, community records, and online materials. Data analysis followed phenomenological procedures, including epoche, horizonalization, thematic clustering, and the synthesis of textural and structural descriptions. The findings show that the meaning of a tourism village is produced through language, symbols, interactions, and negotiations with visitors, and through processes of externalization, objectivation, and internalization, so that the tourism village is understood as a lived space of spiritual, social, and cultural value rather than a purely economic destination. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana masyarakat Desa Belangian mengonstruksi makna desa wisata dalam wacana komunikasi sehari hari. Berlandaskan paradigma konstruktivisme sosial, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan informan warga yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam pariwisata, dipilih melalui teknik purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi terstruktur, observasi partisipatif selama peneliti tinggal di desa, serta studi dokumentasi atas arsip desa, catatan komunitas, dan media daring. Analisis data mengikuti langkah fenomenologis meliputi epoche, horizontalisasi, pengelompokan pernyataan menjadi tema esensial, penyusunan deskripsi tekstural dan struktural, lalu sintesis esensi pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna desa wisata dibentuk melalui praktik bahasa dan simbol, interaksi dan negosiasi warga dengan wisatawan, serta proses eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi, sehingga desa wisata dimaknai sebagai ruang hidup bernilai spiritual, sosial, dan kultural, bukan semata destinasi ekonomi.