Hidayatu Munawaroh
Universitas Sains Al-Qur’an, Wonosobo, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Paradigma Qur’ani dalam Pendidikan Inklusif: Transformasi Sikap Pendidik terhadap Difabel dalam Perspektif Surat Abasa Rendi Karyanto; Syafiq Ni’amillah; Ika Nisak Latifah Al-Ayasy; Shafira Ismi Marifah Novalia; Hidayatu Munawaroh
Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 9 No. 1 (2026): Darajat: Jurnal PAI
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dam Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/darajat.v9i1.4786

Abstract

Pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh regulasi dan infrastruktur, tetapi sangat bergantung pada disposisi mental pendidik dalam memandang keberagaman peserta didik. Meskipun kerangka hukum telah menjamin kesetaraan akses bagi siswa difabel, praktik di lapangan masih menunjukkan dominasi medical model dan charity model yang berdampak pada marginalisasi terselubung melalui rendahnya ekspektasi akademik. Penelitian ini bertujuan mengkaji transformasi sikap pendidik melalui “Paradigma Qurani” berbasis Surah ‘Abasa. Metode yang digunakan adalah library research dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, menggunakan sumber primer Surah ‘Abasa ayat 1–16 serta tafsir otoritatif Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-Azhar. Analisis data dilakukan melalui content analysis dan triangulasi sumber untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teguran ilahiah terhadap sikap tawalla (berpaling) dalam Surah ‘Abasa mengandung prinsip etis tentang kesetaraan akses ilmu tanpa diskriminasi. Nilai ini berfungsi sebagai dasar dekonstruksi terhadap bias kognitif pendidik terhadap peserta didik difabel. Transformasi sikap diwujudkan melalui penguatan peran pendidik sebagai murabbi yang mengintegrasikan nilai kasih sayang (al-rahmah) dan keadilan (al-‘adl), sebagaimana dikemukakan Abdullah Nashih Ulwan. Implementasinya meliputi komunikasi ramah difabel, adaptasi kurikulum, serta penciptaan lingkungan belajar yang inklusif. Simpulan penelitian menegaskan bahwa internalisasi nilai Qurani mampu membangun sistem pendidikan yang humanis, adil, dan bermartabat sebagai wujud nyata konsep tahdīb.
Analisis Peran Buku Braille dalam Pembelajaran Asmaul Husna dan Dzikir Bagi Disabilitas Netra Zidan Misbahudin; Hidayatu Munawaroh; Amiming Maliasyifa; Muhamad Fahrul; Arista Diyareni
Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 9 No. 1 (2026): Darajat: Jurnal PAI
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dam Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/darajat.v9i1.4815

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya hambatan aksesibilitas literasi agama bagi penyandang disabilitas netra terhadap teks-teks keagamaan yang bersifat visual, khususnya pada materi Asmaul Husna dan dzikir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas dan peran buku Braille sebagai media pembelajaran inklusif dalam meningkatkan pemahaman keagamaan serta kemandirian spiritual bagi penyandang disabilitas netra. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (systematic literature review) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, yang menganalisis sepuluh sumber literatur primer dan sekunder dari jurnal ilmiah bereputasi dalam rentang tahun 2021 hingga 2026. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media Braille, baik berupa buku cetak, kartu taktil (seperti flashcard), maupun perangkat digital, secara signifikan mampu meningkatkan retensi memori dan akurasi pelafalan Asmaul Husna. Selain itu, panduan dzikir berbasis Braille memberikan kemandirian spiritual bagi difabel netra dalam menjalankan ibadah harian tanpa ketergantungan pada pihak luar. Artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun teknologi digital berkembang, buku Braille tetap menjadi fondasi fundamental dalam pendidikan agama inklusif. Penguatan pada standardisasi kurikulum Braille Arab dan pelatihan intensif bagi pengajar menjadi kunci utama untuk mewujudkan akses pendidikan agama yang berkeadilan.