Kemampuan berbahasa anak usia dini tidak tumbuh begitu saja, melainkan perlu dipancing dan dirawat lewat berbagai stimulasi yang tepat, dan salah satu cara yang kini banyak dilirik oleh orang tua maupun pendidik PAUD adalah storytelling digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana storytelling digital dapat menstimulasi perkembangan bahasa anak usia 3-6 tahun berdasarkan penelusuran pustaka. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research), di mana data dikumpulkan dari artikel jurnal dan buku yang terbit dalam rentang lima tahun terakhir, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk menemukan pola dan tema yang berulang. Hasil kajian menunjukkan bahwa storytelling digital, baik dalam bentuk aplikasi interaktif, e-book bersuara, maupun video animasi, mampu memperkaya kosakata anak, melatih kemampuan menyimak dan berbicara, serta menumbuhkan ketertarikan pada literasi sejak dini melalui kombinasi visual, audio, dan narasi yang menarik. Namun demikian, efektivitas tersebut sangat bergantung pada keterlibatan orang tua atau guru sebagai pendamping, sejalan dengan gagasan scaffolding dalam teori sosiokultural Vygotsky, karena tanpa pendampingan, storytelling digital justru berisiko menjadi sekadar hiburan pasif yang tidak banyak menyumbang pada perkembangan bahasa anak.