Komunikasi pariwisata berperan penting dalam memperkenalkan destinasi wisata dan membangun branding yang mampu menciptakan citra positif. Destinasi Wisata Danau Biru Indralaya memiliki potensi wisata yang unik, namun masih menghadapi rendahnya tingkat pengenalan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis komunikasi pariwisata yang dilakukan oleh pengelola dalam membangun branding destinasi serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap lima orang pengelola dan lima orang wisatawan. Penelitian ini menggunakan Teori Stimulus–Organism–Response (S-O-R) yang dikemukakan oleh Carl I. Hovland, Irving L. Janis, dan Harold H. Kelley. (1953) sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata yang di lakukan oleh pengelola melalui promosi, penyampaian informasi yang jelas, dan pelayanan yang baik menjadi stimulus yang membentuk persepsi wisatawan sehingga menghasilkan respons positif berupa meningkatnya minat berkunjung, terbentuknya citra positif destinasi, serta penyebaran informasi melalui media sosial dan word of mouth. Hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya literasi digital sebagian wisatawan, keterbatasan fasilitas pada tahap soft opening, serta persepsi negatif yang berkembang di media sosial.