Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERFORMATIF BAHASA RITUAL CUCURANGI TOGO LASALIMU DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS BUDAYA LOKAL Harun Harun; Hari Windu Asrini
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11741

Abstract

This research is motivated by the increasingly eroded existence of local ritual languages ​​due to the currents of globalization and modernization of community communication patterns. The focus of the problem in this research is directed at a descriptive analysis of the form and performative function of speech acts in the Cucurangi Togo rite of the Lasalimu community, Buton Regency, and its formulation as a contextual teaching resource. Using a qualitative approach with a linguistic ethnography design, the important stages in this research are carried out systematically through participatory observation of the sacred stone object of Wacukamboy, in-depth interviews with nine key informants, textual transcription, pragmatic classification, and anthropolinguistic interpretation. The research findings reveal that this five-year oral tradition is dominated by declarative and imperative utterances that have multidimensional performative functions. The locutionary, illocutionary, and perlocutionary structures contained therein do not merely convey verbal information, but embody spiritual-social actions in the form of collective salvation prayers, rituals asking for forgiveness (somba waopu), and strengthening integrative cohesion (may topoose-ose). The main conclusion confirms that the ritual language of Cucurangi Togo is highly valid and effective when integrated as a local wisdom-based Indonesian language instructional medium in schools. This traditional instrument is highly relevant for supporting pragmatics materials, cultural description texts, and strengthening the pillars of religious character education in students on an ongoing basis. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya eksistensi bahasa ritual lokal akibat arus globalisasi dan modernisasi pola komunikasi masyarakat. Fokus masalah dalam riset ini diarahkan pada analisis deskriptif mengenai bentuk dan fungsi performatif tindak tutur dalam ritus Cucurangi Togo masyarakat Lasalimu, Kabupaten Buton, serta formulasinya sebagai sumber ajar kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi linguistik, tahapan penting dalam penelitian ini dijalankan secara sistematis melalui observasi partisipatif pada objek batu keramat Wacukamboy, wawancara mendalam bersama sembilan informan kunci, transkripsi tekstual, klasifikasi pragmatik, hingga interpretasi antropolinguistik. Temuan riset menyingkapkan bahwa tradisi lisan lima tahunan ini didominasi oleh tuturan deklaratif dan imperatif yang memiliki fungsi performatif multidimensional. Struktur lokusi, ilokusi, dan perlokusi yang terkandung di dalamnya tidak sekadar menyampaikan informasi verbal, melainkan mengejawantahkan tindakan spiritual-sosial berupa doa keselamatan kolektif, ritual permohonan ampun (somba waopu), serta penguatan kohesi integratif (may topoose-ose). Simpulan utama menegaskan bahwa bahasa ritual Cucurangi Togo sangat valid dan efektif diintegrasikan sebagai media instruksional Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal di sekolah. Perangkat tradisi ini sangat relevan untuk menyokong materi pragmatik, teks deskripsi budaya, serta penguatan pilar pendidikan karakter religiusitas peserta didik secara berkelanjutan.    
RITUAL CUCURANGI TOGO LASALIMU SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL Harun Harun; Daroe Iswatiningsih; Lisna Lisna
MANAJERIAL : Jurnal Inovasi Manajemen dan Supervisi Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/manajerial.v6i2.11758

Abstract

This study examines the structure of the Cucurangi Togo Lasalimu ritual, the local wisdom embedded within it, and its potential as a culturally based learning resource. The research adopts a qualitative approach using an ethnographic design, emphasizing an in-depth understanding of cultural practices within the Lasalimu community, Buton Regency. The findings reveal that the Cucurangi Togo Lasalimu ritual is organized in a systematic sequence of activities that reflects the social and cultural coherence of the community from beginning to end. The ritual embodies interconnected values of local wisdom, including religious, social, ecological, and philosophical dimensions that remain actively present in daily community life. These values not only serve as guiding principles for behavior but also shape a harmonious relationship among humans, nature, and the spiritual realm. Furthermore, the ritual holds strong potential to be integrated into contextual learning, particularly in Indonesian language instruction, such as descriptive texts, explanatory texts, and report texts. This study highlights that local wisdom can be meaningfully integrated into education to strengthen cultural literacy and support character development among students. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji struktur ritual Cucurangi Togo Lasalimu, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, serta potensinya sebagai sumber pembelajaran berbasis budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi yang menekankan pemahaman mendalam terhadap praktik budaya masyarakat Lasalimu, Kabupaten Buton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Cucurangi Togo Lasalimu memiliki susunan kegiatan yang teratur dan mencerminkan keterpaduan sosial-budaya masyarakat dari awal hingga akhir pelaksanaan. Di dalamnya terkandung nilai kearifan lokal yang saling berkaitan, meliputi aspek religius, sosial, ekologis, dan filosofis yang hidup dalam keseharian masyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi pedoman dalam bertindak, tetapi juga membentuk hubungan harmonis antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Selain itu, ritual ini memiliki potensi untuk dijadikan sumber pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi teks deskripsi, teks eksplanasi, dan laporan hasil observasi. Penelitian ini menegaskan bahwa kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran sebagai upaya memperkuat literasi budaya dan pembentukan karakter peserta didik secara lebih bermakna.