Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Penggunaan Media Sosial TikTok terhadap Brain Rot Remaja Slamet Danu Wijianto; Titik Muti’ah; Haniek Farida
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.3005

Abstract

Media sosial TikTok menyediakan hiburan cepat dan instan lewat algoritma video singkat sehingga menyebabkan gangguan terhadap perkembangan remaja pada aspek sosial,emosional dan kognitif. Fenomena kelelahan mental dan kognitif yang diakibatkan konsumsi berlebihan konten video pendek tidak berbobot disebut dengan isitilah Brain Rot oleh Oxford World Press 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara penggunaan media sosial TikTok dan Brain Rot remaja. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional.Populasi dalam penelitian ini adalah 115 mahasiswa X Angkatan 2025. Teknik pengumpulan subjek penelitian menggunakan teknik Purposive Sampling dengan kriteria (1) Mahasiswa X Angkatan 2025; (2) Memiliki akun di media sosial TikTok; (3) Berusia 18-21 Tahun. Hasilnya, terdapat 70 orang yang memenuhi kriteria, sehingga total 61 peserta penelitian yang direkrut melalui penyebaran kuesioner via tautan Google Forms. Variabel penggunaan media sosial TikTok dikur menggunakan skala dari aspek teori SONTUS (Social Networking Time Use Scale) Olufadi, (2016) dan skala Brain Rot dari aspek Yousef et al., (2025).Analisis hasil penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment dari pearson dengan software Jamovi version 2.6.44 for windows. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara variabel penggunaan media sosial TikTok dan Brain Rot dengan nilai r positif. r = 0,352 dengan nilai p-value = 0,005 (p < 0,05). Nilai koefisien determinasi R² = 0,124 menunjukkan penggunaan TikTok menyumbang 12,4% terhadap fenomena Brain Rot remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya untuk membatasi penggunaan media sosial dan konsumsi video pendek bagi remaja dan bagi orang tua penting untuk memberikan kontrol terhadap penggunaan media sosial remaja.
Manajemen Waktu dengan Kemandirian Belajar Remaja Studi pada Karang Taruna di Padukuhan Sangkeh Adinda Vici Mustafa Nabila Nashri; Rini Eka Sari; Haniek Farida
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11002

Abstract

Kemandirian belajar menjadi konsep penting dalam psikologi pendidikan karena memengaruhi kemampuan individu mengelola proses belajar secara aktif, terutama pada fase remaja yang menghadapi tuntutan kompleks. Bagi remaja yang aktif dalam organisasi sosial seperti karang taruna, tantangan ini semakin besar karena mereka harus menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan keterlibatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara manajemen waktu dengan kemandirian belajar pada remaja Karang Taruna di Padukuhan Sangkeh. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 60 remaja aktif berusia 15–19 tahun yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Google Form yang mengintegrasikan skala kemandirian belajar (α = 0,848) dan skala manajemen waktu (α = 0,936). Analisis data statistik dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson melalui perangkat lunak Jamovi. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan yang kuat antara manajemen waktu dan kemandirian belajar (r = 0,826; p < 0,001). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,682 mengindikasikan bahwa manajemen waktu memberikan kontribusi substansial sebesar 68,2% terhadap varians kemandirian belajar partisipan. Temuan ini secara teoretis memperkuat integrasi antara teori Self-Regulated Learning dan manajemen waktu dalam konteks organisasi kepemudaan non-formal. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan pengurus karang taruna untuk mengintegrasikan pelatihan keterampilan manajemen waktu guna mendukung otonomi dan kapasitas belajar mandiri anggotanya yang multiperan.