Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENGHADIRKAN PENGHIBURAN DAN PENGHARAPAN: PELAYANAN PASTORAL KEPADA JEMAAT LANJUT USIA DAN ORANG SAKIT DI JEMAAT GPI PAPUA BETHEL FAKFAK Maxsi Tupamahu; Lindra Yolanda Camerling; Ribka Ndiken; Alelen Darmas Singerin; Florsita Luanmasa; Riska Dokainubun; Ayu Irene Kerubun; Mey Linda Ubwarin; Aprilia Onarely; Rivaldo Gusti Letsoin
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 03 (2026): JUNI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan pastoral merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja yang bertujuan memberikan pendampingan, penguatan, dan penghiburan kepada jemaat yang sedang menghadapi berbagai pergumulan hidup. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pelayanan pastoral melalui Praktik Kunjungan Mahasiswa (PKM) yang dilaksanakan di Jemaat Bethel Fakfak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi dan percakapan pastoral selama kunjungan rumah kepada enam keluarga jemaat, yaitu Oma Lelapary, Oma Maca Marwa, Bapak Luis Hindom, Bapak Otniel Hindom, Opa dan Oma Basary, serta Opa dan Oma Salakay. Bentuk pelayanan yang dilakukan meliputi percakapan pastoral, pembacaan Firman Tuhan, dan doa bersama. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar jemaat yang dikunjungi merupakan lanjut usia yang mengalami berbagai masalah kesehatan dan membutuhkan perhatian, dukungan keluarga, serta pendampingan rohani dari gereja. Kehadiran pelayanan pastoral memberikan penguatan, penghiburan, dan pengharapan bagi jemaat dalam menghadapi keterbatasan fisik dan pergumulan hidup yang dialami. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan pastoral dan kepekaan pelayanan. Dengan demikian, pelayanan pastoral melalui kunjungan rumah merupakan bentuk pelayanan yang efektif dalam membangun kehidupan iman jemaat dan mewujudkan kasih Kristus di tengah kehidupan gereja.
LIMINALITAS DALAM RITUAL HAHI DI DESA HULALIU KABUPATEN MALUKU TENGAH: ANALISIS SOSIOLOGI BUDAYA VICTOR TURNER Maxsi Tupamahu; Cristophel Van Harling
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 4 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v4i3.6228

Abstract

The Hahi dance ritual of the Hulaliu indigenous community in Haruku Island, Central Maluku, is a collective rite rich in bodily, spatial, and spiritual symbolism. This study aims to analyze the structure of the Hahi ritual through Victor Turner’s theory of liminality and to explore how ritual symbolism shapes and reinforces social identity and soa-based structures. Using a qualitative approach with content analysis, data were collected through literature review and in-depth interviews with traditional figures. The findings reveal that the Hahi ritual consists of three stages—pre-liminal, liminal, and post-liminal—conducted collectively by the entire community. The liminal stage creates a sense of communitas by temporarily dissolving social hierarchies, thus reinforcing solidarity and ancestral values. Symbols such as body movement, tifa rhythm, ceremonial colors, and sacred spaces like Baileo function as complex mediums of spiritual and social communication. This study concludes that Hahi represents a cyclical and communal liminal experience, serving not only as cultural preservation but also as a form of resistance against modern pressures. It is best understood as a rite of intensification that regenerates social order and sustains collective memory within the indigenous context.