Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MENGHADIRKAN PENGHIBURAN DAN PENGHARAPAN: PELAYANAN PASTORAL KEPADA JEMAAT LANJUT USIA DAN ORANG SAKIT DI JEMAAT GPI PAPUA BETHEL FAKFAK Maxsi Tupamahu; Lindra Yolanda Camerling; Ribka Ndiken; Alelen Darmas Singerin; Florsita Luanmasa; Riska Dokainubun; Ayu Irene Kerubun; Mey Linda Ubwarin; Aprilia Onarely; Rivaldo Gusti Letsoin
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 03 (2026): JUNI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan pastoral merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja yang bertujuan memberikan pendampingan, penguatan, dan penghiburan kepada jemaat yang sedang menghadapi berbagai pergumulan hidup. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pelayanan pastoral melalui Praktik Kunjungan Mahasiswa (PKM) yang dilaksanakan di Jemaat Bethel Fakfak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi dan percakapan pastoral selama kunjungan rumah kepada enam keluarga jemaat, yaitu Oma Lelapary, Oma Maca Marwa, Bapak Luis Hindom, Bapak Otniel Hindom, Opa dan Oma Basary, serta Opa dan Oma Salakay. Bentuk pelayanan yang dilakukan meliputi percakapan pastoral, pembacaan Firman Tuhan, dan doa bersama. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar jemaat yang dikunjungi merupakan lanjut usia yang mengalami berbagai masalah kesehatan dan membutuhkan perhatian, dukungan keluarga, serta pendampingan rohani dari gereja. Kehadiran pelayanan pastoral memberikan penguatan, penghiburan, dan pengharapan bagi jemaat dalam menghadapi keterbatasan fisik dan pergumulan hidup yang dialami. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan pastoral dan kepekaan pelayanan. Dengan demikian, pelayanan pastoral melalui kunjungan rumah merupakan bentuk pelayanan yang efektif dalam membangun kehidupan iman jemaat dan mewujudkan kasih Kristus di tengah kehidupan gereja.
SIMBOL SUNAT DAN PERJANJIAN DALAM PERSPEKTIF BUDAYA TIMUR TENGAH PURBA Mey Linda Ubwarin
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.155

Abstract

Studi ini dimulai dengan pentingnya sunat sebagai tanda fisik dalam tradisi Israel kuno, serupa dengan praktik di budaya Timur Dekat kuno lainnya. Namun, di luar kesamaan ritual ini, ada kebutuhan mendalam untuk mengeksplorasi makna teologis khas yang membedakan Israel. Studi ini bertujuan untuk menganalisis sunat sebagai tanda perjanjian ('ot berit) dalam Kejadian 17:9–14, dengan fokus pada bagaimana praktik ini membentuk identitas komunitas. Kami menggunakan pendekatan historis-kritis dan komparatif, mengeksplorasi keterkaitan antara ritual tubuh, simbolisme, dan konsep perjanjian, sambil membandingkannya dengan praktik serupa di Mesir dan budaya Semit lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa Israel memberikan dimensi teologis transformatif yang unik pada sunat: bukan sekadar ritual inisiasi, tetapi simbol permanen perjanjian (berit) dengan Yahweh yang secara mendalam membentuk identitas kolektif. Transformasi ini kemudian berkembang menjadi konsep spiritual "sunat hati" dalam tradisi kenabian dan Perjanjian Baru, yang mencerminkan sifat dinamis pemahaman hubungan antara manusia dan ilahi. Kesimpulannya, simbol sunat berfungsi sebagai titik penting untuk memahami evolusi teologi perjanjian dan konsep identitas umat Allah dalam teologi Ibrani, sekaligus memberikan wawasan berharga tentang bagaimana simbol-simbol keagamaan berkembang dari waktu ke waktu.    Kata kunci: Simbol Sunat, Perjanjian, Budaya, Timur Tengah Kuno.
KASIH, KEADILAN, DAN REKONSILIASI: KONSTRUKSI TEOLOGI POLITIK KRISTEN BAGI RESOLUSI KONFLIK SOSIAL DI TANAH PAPUA Mey Linda Ubwarin
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 9, No 1 (2026): Agustus 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v9i1.179

Abstract

Konflik sosial dan politik di Tanah Papua telah berlangsung selama beberapa dekade dan menghasilkan luka yang dalam bagi masyarakat, gereja, serta proses pembangunan sosial secara luas. Pendekatan berbasis keamanan, meskipun dominan dalam kebijakan negara, terbukti belum memadai dalam menjawab akar struktural dan historis dari konflik tersebut. Realitas ini menuntut adanya kerangka etis-teologis yang berorientasi pada perdamaian berkelanjutan dan rekonsiliasi yang autentik. Penelitian ini bertujuan mengkonstruksi teologi politik Kristen yang berlandaskan nilai kasih, keadilan, dan rekonsiliasi sebagai kontribusi bagi resolusi konflik sosial di Papua. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif-teologis, penelitian ini menganalisis teks-teks Alkitab, karya-karya teologi politik klasik dan kontemporer, serta literatur terkini tentang konflik Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma keamanan yang dominan telah mengabaikan dimensi dialogis dan rekonsiliatif yang esensial bagi perdamaian yang berkelanjutan, dan bahwa teologi politik Kristen yang dibangun di atas pilar kasih, keadilan, dan rekonsiliasi menawarkan alternatif yang lebih holistik. Penelitian ini mengusulkan model rekonsiliatif lima tahap kebenaran, keadilan, pengampunan, rekonsiliasi, dan shalom sebagai kontribusi konstruktif bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat Papua dalam mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan.Kata Kunci: Kasih, Keadilan, Rekonsiliasi, Teologi Politik, Konflik Sosial, Papua.