Diah Ayuningrum
Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. Prof Jacub Rais, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah-50275

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Struktur Komunitas Tunikata (Kelas Ascidiacea) di Perairan Pulau Menjangan Besar dan Pulau Geleang, Karimunjawa Agung Prasetyo; Diah Ayuningrum; Pujiono Wahyu Purnomo
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 13, No 1 (2026): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/marj.v13i1.55983

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa terletak di Laut Jawa dan termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Jepara. Penelitian ini dilakukan di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Geleang, yang memiliki potensi sumber daya perairan yang melimpah. Salah satu biota yang dikaji dalam penelitian ini adalah tunikata, khususnya kelas ascidiacea, yang termasuk dalam subfilum tunikata dan filum Chordata. Organisme ini lebih dikenal sebagai sea squirt dan memiliki peran ekologis penting dalam ekosistem laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas tunikata, mengidentifikasi faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusinya, serta menentukan nilai tutupan tunikata di perairan Karimunjawa. Metode yang digunakan adalah Underwater Photo Transect (UPT) dan Underwater Visual Census (UVC) dengan perangkat lunak CPCe untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Geleang memenuhi sebagian besar parameter baku mutu air, dengan kecerahan > 5 m, pH 8,5–8,6, salinitas 34–35,7‰, suhu 27,8–28,5°C, dan DO > 5 mg/L. Namun, kadar nitrat (1,5–2,5 mg/L), nitrit (0,013–0,014 mg/L), dan fosfat (0,04 mg/L) melebihi nilai baku mutu. Tutupan tunikata tertinggi ditemukan di Pulau Menjangan Besar (Stasiun 1: 3,20%), sementara di Pulau Geleang lebih rendah (Stasiun 2: 0%; Stasiun 3: 0,13%). Indeks keanekaragaman berkisar 0,00–1,09, keseragaman 0,00–0,68, dan dominansi 0,38–1,00. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa aktivitas antropogenik, seperti budidaya keramba dan pariwisata, berkontribusi terhadap pencemaran nutrien yang berdampak pada rendahnya tutupan dan keanekaragaman tunikata. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan rutin dan pengelolaan aktivitas manusia untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan Karimunjawa.
Hubungan Tekstur Sedimen dan Kandungan Bahan Organik di Perairan Pulau Gede dan Sekitarnya, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah Muhammad Rifqi; Diah Ayuningrum; Pujiono Wahyu Purnomo
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 13, No 1 (2026): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/marj.v13i1.52849

Abstract

Keindahan Pantai Pasir Putih Pulau Gede, Rembang, tidak hanya terletak pada warna pasir yang khas, tetapi juga pada kompleksitas proses biogeokimia yang terjadi di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tekstur sedimen, menganalisis kandungan bahan organik, serta hubungan keduanya. Sampel sedimen diambil dari 9 stasiun pada kedalaman 0-5 meter di sepanjang garis pantai di Pulau Gede dan sekitarnya pada Juli 2023. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Analisis tekstur sedimen dilakukan dengan metode pipet sedimen, sedangkan kandungan bahan organik diukur dengan metode loss on ignit. Hasil penelitian menunjukkan dominasi fraksi tanah liat di sebagian besar stasiun, terutama di daerah yang dekat dengan muara sungai. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara persentase fraksi tanah liat dan kandungan bahan organik (r = 0,85, p < 0,01). Analisis regresi menunjukkan bahwa jarak dari muara sungai merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap distribusi tekstur sedimen dan kandungan bahan organik. Sedimen yang lebih halus dan kaya akan bahan organik ditemukan di dekat muara sungai, menunjukkan pentingnya input bahan organik dari darat. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pengelolaan lingkungan pesisir Pulau Gede, terutama dalam hal perlindungan habitat bentik dan pengendalian polusi. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengkaji dinamika sedimen musiman dan pengaruh perubahan iklim terhadap ekosistem pesisir.