p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal EDUSAINS LEBAH
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The integrated STEM teacher identity scale for pre-service teachers: Evidence from Rasch and confirmatory factor analysis Ahmad Suryadi; Endang Purwaningsih; Amrizaldi; Ahmad Swandi; Abdul Haris
EDUSAINS Vol. 18 No. 1 (2026): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v18i1.52249

Abstract

Integrated STEM teacher identity is important for preparing pre-service teachers to implement integrated STEM instruction. This study aimed to develop and provide initial validation evidence for the Integrated STEM Teacher Identity Scale for Pre-service Teachers using an exploratory sequential mixed-methods design that combined qualitative interviews, literature review, expert judgment, Rasch analysis, and Confirmatory Factor Analysis. Three experienced teachers who had implemented integrated STEM instruction were interviewed to identify relevant identity dimensions, and based on these findings and the literature, an initial pool of 44 items was developed and reviewed by experts. The first pilot test involved 59 pre-service teachers and was analyzed using Rasch modeling to examine dimensionality, item fit, and reliability, while the second pilot test, conducted after revision, involved 119 pre-service teachers and was analyzed using Rasch modeling and Confirmatory Factor Analysis. The final scale consisted of 28 items across six dimensions: personal experience, self-definition, recognition, competence-performance beliefs, interest, and commitment. The CFA results supported the six-factor model, with acceptable fit indices (RMSEA = 0,067; TLI = 0,905; CFI = 0,917; IFI = 0,919), composite reliability ranging from 0,79 to 0,94, and Cronbach’s alpha ranging from 0,68 to 0,90. Convergent validity was supported for most dimensions, although personal experience and self-definition showed AVE values below the recommended threshold, and the commitment dimension showed relatively low person reliability. Overall, the scale provides promising initial evidence, although further refinement is needed.
Local Capacity Development pada Organisasi Masyarakat Adat melalui Pendampingan YPMS menuju Engaged Society Dian Aswita; Jendri Mamangkey; Adi Pramuda; Ahmad Suryadi; Dewi Febriyanti; Suleman Samuda
Lebah Vol. 19 No. 6 (2026): July: Pengabdian
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/lebah.v19i6.603

Abstract

Kapasitas organisasi masyarakat adat sering kali belum berkembang sejalan dengan mandat sosial yang diemban, sehingga perannya dalam advokasi dan pemberdayaan komunitas menjadi kurang optimal. Artikel ini membahas kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa pendampingan Yayasan Pengembangan Masyarakat Sumuri (YPMS) sebagai upaya pengembangan kapasitas lokal organisasi adat. Permasalahan utama yang dihadapi adalah lemahnya tata kelola kelembagaan, belum jelasnya arah strategis organisasi, serta terbatasnya kemampuan perencanaan program. Kegiatan dilaksanakan selama 7 hari melibatkan 12 orang peserta yang terdiri dari pengurus harian dan perwakilan tiga marga adat melalui pendekatan partisipatif yang mencakup asesmen kebutuhan, pelatihan, diskusi reflektif, dan pendampingan kelembagaan.  Berdasarkan analisis data pre-test dan post-test, rata-rata pemahaman awal peserta sebesar 42,25% meningkat menjadi 70,83% pada akhir program, menandakan adanya perolehan N-Gain sebesar 0,50. Kenaikan kuantitatif ini mengonfirmasi bahwa internalisasi materi pembagian kerja struktural, fungsi koordinasi antar-marga, dan hak-hak konstitusional kelembagaan berhasil diserap secara optimal oleh seluruh perwakilan pengurus dan marga. Hasil kualitatif menunjukkan adanya penguatan fondasi organisasi, tersusunnya kembali visi dan misi yang lebih operasional, meningkatnya kemampuan pengurus dalam menyusun perencanaan berbasis masalah, serta tumbuhnya kesadaran kolektif mengenai peran YPMS sebagai lembaga advokasi dan pemersatu sosial. Meski menghadapi kendala berupa keterbatasan kapasitas awal, sensitivitas sosial, dan durasi pendampingan yang singkat, proses ini menandai perubahan awal menuju organisasi yang lebih adaptif dan partisipatif. Kegiatan ini menegaskan bahwa pengembangan kapasitas berbasis partisipasi merupakan langkah penting dalam memperkuat peran organisasi masyarakat adat dalam pembangunan lokal