Pemanfaatan pupuk biourine sapi telah banyak dilakukan, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh dosis dan frekuensi aplikasi yang tepat. Dosis terlalu rendah dapat menyebabkan kekurangan nutrisi, sementara dosis terlalu tinggi berisiko menimbulkan toksisitas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi dosis dan frekuensi aplikasi biourine sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk biourine (10 ml/L, 20 ml/L, dan 30 ml/L) dan frekuensi aplikasi (1 kali, 2 kali, dan 3 kali seminggu), dengan tiga ulangan, sehingga terdapat 27 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun, panjang akar, berat brangkasan basah, serta hasil per satuan luas (kg/m² dan ton/ha). Data dianalisis menggunakan ANOVA taraf 5%, dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum variabel pertumbuhan tidak berbeda nyata, namun menunjukkan tren peningkatan seiring peningkatan dosis dan frekuensi aplikasi. Sementara itu, pada variabel hasil terdapat pengaruh nyata, terutama pada kombinasi dosis 20 ml/L (D2) dan frekuensi 3 kali seminggu (F3), yang memberikan hasil terbaik. Dosis D2 dan D3 memberikan nilai lebih tinggi dibandingkan D1 dalam hal jumlah daun, panjang daun, berat brangkasan basah, dan hasil per satuan luas. Frekuensi F3 juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap tinggi tanaman, ukuran daun, dan hasil panen. Kombinasi D2F3 dapat direkomendasikan untuk peningkatan hasil pakcoy yang optimal