Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Legal Construction of Public Participation and Transparency in the Formation of Regional Regulations on the Regional Budget: A Study on the Bima City Government for the 2019–2024 Period Suryadin Suryadin; Erham; Taufik Firmanto
International Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 4 No. 2 (2026): International Journal of Social Sciences and Humanities
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/ijssh.v4i2.2073

Abstract

This study aims to analyze the legal construction of public participation and transparency in the formation of Regional Regulations on the Regional Revenue and Expenditure Budget (APBD) in Bima City during the 2019–2024 period. The research is motivated by a gap between normative legal provisions that guarantee public participation and transparency in regional budgeting and the empirical practice of APBD regulation-making, which tends to be procedural and elitist. The main issue examined concerns how the legal construction of public participation and transparency is implemented in the formation of APBD regulations and to what extent these principles are realized substantively. This research employs a normative-empirical legal research method with a qualitative approach. The data consists of secondary data, including statutory regulations, Bima City APBD regional regulations for fiscal years 2019–2024, and relevant academic literature, as well as primary data obtained from musrenbang documents, minutes of RAPBD deliberations, and APBD documents published by the local government. All data were analyzed using a juridical-critical method through systematic and teleological legal interpretation and comparison between normative standards and empirical practices. The findings indicate that, normatively, the principles of public participation and transparency have been incorporated into the formation of APBD regulations in Bima City. However, empirically, their implementation remains largely formalistic and has not yet reflected meaningful public participation and substantive transparency. This study concludes that strengthening participatory mechanisms and enhancing budget information transparency are essential to realizing democratic and accountable regional financial governance.
Kedudukan MPR dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia Nur Mutmainnah; Eka Turkiani; Erham
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.7589

Abstract

Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam struktur ketatanegaraan Indonesia mengalami perubahan yang signifikan setelah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebelum amandemen, MPR merupakan lembaga tertinggi negara yang melaksanakan kedaulatan rakyat sepenuhnya. Namun, setelah amandemen UUD 1945, MPR direposisi menjadi lembaga negara yang sederajat dengan lembaga negara lainnya berdasarkan prinsip supremasi konstitusi dan checks and balances. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan MPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia serta mengkaji implikasi perubahan kedudukannya pasca amandemen UUD 1945. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amandemen UUD 1945 telah mengubah MPR dari lembaga tertinggi negara menjadi lembaga konstitusional dengan kewenangan yang lebih terbatas, terutama dalam perubahan konstitusi, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, serta pemberhentian Presiden sesuai mekanisme konstitusi. Meskipun demikian, masih terdapat berbagai problematika ketatanegaraan, seperti ketidakjelasan posisi kelembagaan MPR, perdebatan mengenai penghidupan kembali haluan negara, serta efektivitas peran MPR dalam sistem presidensial. Oleh karena itu, diperlukan penguatan fungsi konstitusional MPR melalui optimalisasi kelembagaan, penguatan budaya konstitusional, dan pengembangan mekanisme checks and balances. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MPR tetap memiliki kedudukan strategis sebagai lembaga konstitusional dalam menjaga stabilitas demokrasi dan ketatanegaraan Indonesia.