ABSTRAK Penggunaan antibiotik yang tidak rasional, termasuk amoksisilin, masih menjadi permasalahan di fasilitas pelayanan kesehatan karena dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri, efek samping, serta biaya pengobatan. Evaluasi penggunaan amoksisilin diperlukan untuk menilai kesesuaian terapi yang diberikan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan amoksisilin dan tingkat kerasionalannya berdasarkan metode Gyssens. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap 70 rekam medis pasien yang mendapatkan terapi amoksisilin selama periode penelitian. Penilaian rasionalitas penggunaan amoksisilin dilakukan berdasarkan metode Gyssens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat penggunaan antibiotik yang termasuk kategori rasional (kategori 0). Ketidakrasionalan penggunaan amoksisilin paling banyak terdapat pada kategori tidak ada indikasi penggunaan antibiotik (kategori V) yaitu sebanyak 59 pasien (84,28%), diikuti oleh kategori terdapat antibiotik lain yang lebih efektif (kategori IVA) sebanyak 11 pasien (15,71%). Selain itu, ditemukan pula ketidaktepatan pada kategori penggunaan antibiotik tidak tepat dosis (kategori IIA) sebanyak 3 pasien (4,28%) serta penggunaan antibiotik terlalu singkat (kategori IIIB) sebanyak 1 pasien (1,42%). Sementara itu, kategori lainnya seperti tidak tepat waktu (kategori I), tidak tepat interval pemberian (kategori IIB), tidak tepat rute pemberian (kategori IIC), penggunaan terlalu lama (kategori IIIA), serta kategori lainnya tidak ditemukan dalam penelitian ini (0%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan amoksisilin di fasilitas pelayanan kesehatan masih belum rasional. Kata kunci: Amoksisilin, Metode Gyssens, Rasionalitas