Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tradisi Nyabis Dalam Pendidikan Karakter Keluarga Madura: Resistensi Kultural Terhadap Ekstremisme Keagamaan Helyati Helyati; Mohammad Muchlis Solichin
IHSAN: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1: Mei 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/ihsan.v2i1.524

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tradisi Nyabis dalam pendidikan karakter keluarga Madura sebagai bentuk resistensi kultural terhadap berkembangnya ekstremisme keagamaan. Di tengah meningkatnya isu radikalisme dan menguatnya kecenderungan keberagamaan yang eksklusif, masyarakat Madura sebenarnya telah memiliki mekanisme budaya yang berfungsi sebagai sarana transmisi nilai-nilai sosial, moral, dan keagamaan yang moderat melalui tradisi Nyabis. Nyabis adalah budaya silaturrahim kepada tokoh agama atau tokoh yang dihormati di Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi untuk memahami makna, praktik, dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi nyabis yang masih dilestarikan oleh keluarga Madura di kecamtan Pragaan. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan anggota keluarga Madura, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyabis berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai kemaduraan yang mencakup penghormatan kepada orang tua dan ulama, solidaritas sosial, kerendahan hati, gotong royong, toleransi, serta religiusitas yang inklusif. Nilai-nilai tersebut ditransmisikan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga sehingga membentuk karakter individu yang berorientasi pada harmoni sosial. Temuan penelitian juga mengungkap bahwa tradisi Nyabis menjadi alternatif model resistensi kultural yang efektif dalam membangun ketahanan keluarga terhadap penetrasi ideologi ekstremisme keagamaan dengan memperkuat karakter individu dengan melestarikan kearifan budaya lokal yang selaras dengan nilai-nilai Islam wasathiyah yang humanis. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sebagai strategi pendidikan dan penguatan karakter keluarga dan pencegahan ekstremisme keagamaan dalam masyarakat di era disrupsi.  
Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Analisis Konseptual Pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Implikasinya terhadap Pendidikan Kontemporer Helyati Helyati; Siswanto Siswanto; Atiqullah Atiqullah
JINEA: Journal of Innovation in Education and Learning Vol. 2 No. 3: OCTOBER 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/jinea.v2i3.742

Abstract

Kajian ini bertujuan menganalisis secara filosofis-konseptual gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dalam perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas serta relevansinya terhadap pendidikan kontemporer. Kajian dilatarbelakangi krisis epistemologis pendidikan modern yang ditandai sekularisasi ilmu, dikotomi pendidikan, degradasi moral, dan lemahnya orientasi transendental. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan analisis filosofis-kritis terhadap karya primer al-Attas dan artikel ilmiah relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu merupakan proses dewesternisasi ilmu modern melalui eliminasi unsur sekularisme, dualisme, relativisme, dan humanisme antroposentris, kemudian mereintegrasikannya dalam worldview Islam berbasis tauhid. Worldview Islam dan adab menjadi fondasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis pendidikan. Pemikiran al-Attas relevan bagi pendidikan kontemporer melalui pengembangan kurikulum integratif, penguatan karakter berbasis adab, rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam, serta reposisi guru sebagai agen transformasi intelektual dan spiritual. Dengan demikian, Islamisasi ilmu dapat diposisikan sebagai paradigma alternatif dalam merespons krisis pendidikan kontemporer.