Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Antara Manual dan Digital: Tantangan Pendidikan Pesantren Tradisional dan Modern dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan Erlina Uswatun Khasanah; Laili Rif'ah Maftuhah; Nurul Hidayah; Sa'adi Sa'adi
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i4.974

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pendidikan pesantren tradisional dan pesantern modern dalam menghadapi perkembangan teknologi digital ditinjau dari perspektif sosiologi pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multi-situs yang dilaksanakan di dua pondok pesantren modern (Bina Insani Baran Susukan) dan pesantren tradisional (Roudlotut Tholibin Jetis Susukan). Informan penelitian meliputi pengasuh pesantren, ustaz/ustazah, dan santri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren tradisional tetap mempertahankan pembelajaran kitab kuning melalui metode bandongan dan diniyah sebagai identitas utama pendidikan pesantren, dengan pemanfaatan teknologi secara terbatas sebagai media pendukung pembelajaran, pesantren tradisional menekankan pelestarian tradisi keilmuan Islam, pembentukan karakter, dan penguatan nilai-nilai keagamaan dengan, sangat menekankan etika relasi sosial trdisional antara kiai (sebagai pengasuh pesantren) dan para santri. Sedangkan pesantren modern telah mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pembelajaran dan pengelolaan pendidikan melalui pemanfaatan internet, media digital, serta kurikulum yang memadukan pendidikan agama dan pendidikan formal, dan lebih berorientasi pada inovasi dan pengembangan kompetensi digital, dengan etika relasi sosial yang lebih longgar (demokratis) antara kiyai dan para santri karena manajemen pesantren lebih banyak diperankan oleh direktur, kepala madrasah dan para ustad/ustadzah. Dari perspektif sosiologi pendidikan, perbedaan sistem pendidikan tersebut merupakan bentuk adaptasi sosial terhadap perkembangan zaman. Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, kedua pesantren tetap berperan dalam membentuk generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di era digital tanpa kehilangan identitas pesantren.
SINERGI GURU PAI DAN BUDAYA SEKOLAH DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN NILAI DI SMPN 1 SECANG Nurul Hidayah; Muh Nursikin
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15051

Abstract

This study was motivated by the socio-cultural challenges surrounding SMP Negeri 1 Secang, which is located near a traditional market and a bus terminal. These environmental conditions significantly influence the decline of students’ moral values and religious character. Although the area is surrounded by Islamic boarding schools, a gap remains between the presence of religious institutions and the daily behavior of students, which is often shaped by the street culture prevailing in the surrounding environment. This study aims to analyze the synergy between Islamic Religious Education (PAI) teachers and school culture in strengthening values education through religious habituation programs. This research employed a descriptive qualitative approach with a case study design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. The data were analyzed through the processes of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the synergy is established collaboratively, with PAI teachers acting as the primary drivers and designers of value-based content, while the school provides supportive policies and an organizational culture that facilitates the implementation of such values. The strengthening of values education is manifested through various religious habituation activities, including the recitation of Asmaul Husna in the morning, congregational prayers, daily supplications, and collective dhikr. This synergy has proven effective in creating a “cultural shield” that helps construct students’ religious identities amidst the heterogeneity and challenges of the surrounding social environment. The study recommends the formal codification of school culture policies to ensure the sustainability and preservation of these values over time.