Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dan kerap berkaitan dengan berbagai kelainan hematologis, khususnya penurunan kadar hemoglobin. Kondisi anemia pada pasien TB dapat disebabkan oleh proses inflamasi yang berlangsung kronis, gangguan dalam metabolisme zat besi, serta kekurangan asupan nutrisi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan memperlambat proses pemulihan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kadar hemoglobin pada penderita tuberkulosis paru di RSUD Patut Patuh Patju. Metode yang digunakan berupa penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel penelitian terdiri atas 44 penderita TB paru yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Analisis data dilakukan secara deskriptif, kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (56,8%), berada pada kelompok usia 31-45 tahun (38,6%), dan menjalani fase intensif pengobatan OAT (54,5%). Pemeriksaan kadar hemoglobin menunjukkan bahwa 61,4% pasien mengalami anemia, yang terdiri atas anemia ringan (40,9%) dan anemia sedang (20,5%), sedangkan 38,6% memiliki kadar hemoglobin normal. Tidak ditemukan kasus anemia berat pada seluruh responden. Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB didominasi oleh pasien laki-laki dengan usia 31-45 tahun, pada fase intensif OAT. Sebanyak 61,4% pasien TB mengalami anemia, yang didominasi oleh anemia ringan. Anemia masih menjadi komplikasi hematologis yang umum pada penderita TB paru.