p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Sains Natural
Wirdullutfi Wirdullutfi
Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Mataram, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Kadar Hemoglobin Pada Penderita Tuberkulosis Paru di RSUD Patut Patuh Patju Baiq Isti Hijriani; Wirdullutfi Wirdullutfi
Jurnal Sains Natural Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/jsn.v4i2.1054

Abstract

Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dan kerap berkaitan dengan berbagai kelainan hematologis, khususnya penurunan kadar hemoglobin. Kondisi anemia pada pasien TB dapat disebabkan oleh proses inflamasi yang berlangsung kronis, gangguan dalam metabolisme zat besi, serta kekurangan asupan nutrisi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan memperlambat proses pemulihan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kadar hemoglobin pada penderita tuberkulosis paru di RSUD Patut Patuh Patju. Metode yang digunakan berupa penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel penelitian terdiri atas 44 penderita TB paru yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Analisis data dilakukan secara deskriptif, kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (56,8%), berada pada kelompok usia 31-45 tahun (38,6%), dan menjalani fase intensif pengobatan OAT (54,5%). Pemeriksaan kadar hemoglobin menunjukkan bahwa 61,4% pasien mengalami anemia, yang terdiri atas anemia ringan (40,9%) dan anemia sedang (20,5%), sedangkan 38,6% memiliki kadar hemoglobin normal. Tidak ditemukan kasus anemia berat pada seluruh responden. Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB didominasi oleh pasien laki-laki dengan usia 31-45 tahun, pada fase intensif OAT. Sebanyak 61,4% pasien TB mengalami anemia, yang didominasi oleh anemia ringan. Anemia masih menjadi komplikasi hematologis yang umum pada penderita TB paru.
Hubungan Kadar Glukosa Darah dengan Kelainan Sedimen Urine Non-Infeksi pada Penderita Diabetes Mellitus Wirdullutfi Wirdullutfi; Baiq Isti Hijriani
Jurnal Sains Natural Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35746/jsn.v4i2.1055

Abstract

Latar Belakang: Hiperglikemia kronik pada penderita diabetes mellitus (DM) tidak hanya meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran kemih, tetapi juga menyebabkan kerusakan struktural pada glomerulus dan epitel saluran kemih yang dapat dideteksi melalui sedimen urine. Eritrosituria dan peningkatan sel epitel dalam penelitian ini lebih mencerminkan cedera jaringan akibat toksisitas glukosa, bukan hanya karena respons terhadap infeksi aktif. Tujuan: Menganalisis hubungan antara kadar glukosa darah dengan eritrosituria dan peningkatan sel epitel urine pada penderita diabetes mellitus, sebagai penanda kerusakan struktural saluran kemih selain infeksi. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 48 penderita diabetes mellitus dengan kadar glukosa darah sewaktu >=200 mg/dL. Pemeriksaan meliputi glukosa darah sewaktu (metode enzimatik GOD-PAP) dan pemeriksaan mikroskopik sedimen urine. Data dianalisis menggunakan uji Spearman's rho dan uji chi-square. Hasil: Eritrosituria terdeteksi pada 77,1% total sampel. Pada kelompok glukosa >300 mg/dL, eritrosituria > 0/lpb ditemukan pada 76,9% sampel dengan temuan ekstrim (kategori banyak dan penuh) sebesar 11,5%. Peningkatan sel epitel (kategori banyak dan penuh) ditemukan pada 61,5% sampel kelompok >300 mg/dL dibandingkan 72,7% pada kelompok >200 mg/dL. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif antara derajat hiperglikemia dengan intensitas eritrosituria (rs=0,412; p=0,003). Kesimpulan: Derajat hiperglikemia berkorelasi bermakna dengan intensitas eritrosituria (rs=0,412; p=0,003), yang mencerminkan kerusakan membrana basalis glomerulus dan tubulus akibat hiperglikemia kronik. Peningkatan sel epitel lebih menonjol pada hiperglikemia sedang, kemungkinan karena sel masih mampu menjalani deskuamasi aktif sebelum mencapai fase nekrotik. Kedua parameter tersebut dapat berfungsi sebagai penanda kerusakan structural saluran kemih non-infeksi pada penderita diabetes mellitus, yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan sedimen urine.