Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strengthening the Capacity of Village Communities in Handling Health Crises Due to Disasters Through Participatory Action Research: Results of Community Service in Ngelang Sunarto Sunarto; Heru Santoso Wahito Nugroho; Suparji Suparji; Aries Prasetyo; Cantika Puteri Apriliana
Health Dynamics Vol 3, No 7 (2026): July 2026
Publisher : Knowledge Dynamics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/hd30703

Abstract

Ngelang Village in Kartoharjo District, Magetan Regency, has been designated a Disaster Resilient Village (Destana). However, its capacity to handle health crises remains limited, marked by weak coordination, the absence of an emergency command structure, and minimal training and simulation. The community service activity employed a Participatory Action Research (PAR) approach and involved 34 participants. Needs identification resulted in four priorities: establishing a command structure, developing a contingency plan, updating health vulnerability data, and creating a risk and vulnerability map. Intensive training was conducted over four days, totaling 30 training hours (JPL). The average pre-test score of 77.07 increased to 86.4 in the post-test, but decreased to 81.03 after one month, indicating challenges in knowledge retention. Participation was high, with over 59% of responses in the excellent category. Weaknesses were still evident in discussion engagement and problem-identification skills. Reflection showed that material understanding and practical skills were in the moderate category, while engagement was relatively high. The PAR intervention was effective in increasing knowledge and participation; however, the sustainability of the results requires strengthening retention strategies. Active participant involvement is crucial, but improvements are needed in discussion and problem analysis. The village government is committed to allocating the village budget (APBDes) for evacuation facilities, outreach, and regular simulations. The Destana Forum has agreed to make the training a regular biennial program and establish collaborations with health and disaster management agencies.
Case Report Pada Ibu Menyusui Multipara Dengan Puting Lecet Ekstrem (Grade 3) Cantika Puteri Apriliana; Tinuk Esti Handayani; Nurlailis Saudah; Naryani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1149

Abstract

Puting lecet merupakan salah satu masalah yang sering dialami ibu menyusui dan dapat menghambatkeberhasilan pemberian ASI eksklusif. Sebagian besar kasus terjadi pada minggu pertama postpartum akibatteknik pelekatan yang kurang tepat, sedangkan kasus puting lecet ekstrem pada ibu multipara setelah lebih darisatu bulan postpartum masih jarang dilaporkan. Laporan kasus ini bertujuan mendeskripsikan asuhan kebidananpada ibu menyusui dengan puting lecet ekstrem. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif (casereport) pada satu subjek, yaitu Ny. H, usia 30 tahun, P20002, menyusui hari ke-52 dengan puting lecet ekstrem.Data dikumpulkan melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan empat kali kunjunganberkelanjutan pada 23 Januari–9 Februari 2026. Asuhan meliputi identifikasi penyebab puting lecet, edukasiteknik pelekatan yang benar, penghentian sementara direct breastfeeding (DBF) pada puting dengan luka berat,pengosongan payudara menggunakan pompa ASI setiap 2–3 jam, pemberian salep lanolin, penggunaan minyakzaitun, konseling ASI eksklusif, serta dukungan keluarga. Hasil menunjukkan bahwa penyebab utama putinglecet adalah teknik pelekatan yang tidak tepat sehingga bayi hanya menghisap puting tanpa mencakup sebagianbesar areola. Pada kunjungan pertama ditemukan puting lecet grade 3 pada puting kanan dan grade 2 pada putingkiri. Setelah diberikan asuhan kebidanan secara komprehensif, kondisi puting membaik secara bertahap menjadigrade 2 pada hari ke-57, grade 1 pada hari ke-62, dan sembuh pada hari ke-69. Disimpulkan bahwa asuhankebidanan yang mencakup koreksi teknik menyusui, pengosongan payudara secara teratur, dan dukungankeluarga efektif mempercepat penyembuhan puting lecet ekstrem serta mendukung keberhasilan pemberian ASIeksklusif.