Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Jenis Kemasan Dan Lama Waktu Penyimpanan Pada Suhu Ruang Terhadap Mutu Bubuk Bawang (Allium Cepa Var Aggregatum L) Andy Hermawan; Husain Syam; Andi Sukainah
Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian Vol 9, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jptp.v9i1.20105

Abstract

Penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan berbagai jenis kemasan pada suhu ruang terhadap mutu bubuk bawang merah goreng selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kemasan dan lama penyimpanan dengan 3 kali ulangan untuk setiap perlakuan. Bubuk bawang merah disimpan pada 5 jenis kemasan yaitu botol kaca, plastik PE, plastik PP, aluminium foil, dan kertas. Analisis yang dilakukan berupa, kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar karbohidrat dan organoleptik diuji pada 0 hari, 10 hari dan 20 hari. Data hasil penelitian diuji dan dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) setelah itu dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis kemasan dan lama waktu penyimpanan sangat berpengaruh nyata terhadap mutu produk seperti kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar karbohidrat dan uji organoleptik. Perlakuan terbaik yang dilakukan pada penelitian 20 hari adalah kemasan aluminium foil dengan jumlah kadar air (8.04% – 10.47%), kadar abu (3.10% - 3.62%), kadar protein (10.00% - 9.00%), kadar karbohidrat (68.40% - 67.64%) dan organoleptik, warna (4.08 – 3.69), tekstur (3.97 – 3.53), aroma (3.97 – 3.65), dan rasa (4.08 – 3.70).This study was to determine the effect of using various types of packaging at room temperature on the quality of fried shallot powder during the storage process. This study used a completely randomized design (CRD)factorial pattern with two factors, namely the type of packaging and storage time with 3 replications for each treatment. Shallot powder is stored in 5 types of glass bottles, PE plastic, PP plastic, aluminum foil, and paper. Analysis carried out  of water content, ash content, protein content, carbohydrate content and organoleptic were tested at 0 days, 10 days and 20 days. The data of the research examined and analyzed using Analysis of Variety (ANOVA) and continued with the Duncan test. The results showed that various types of packaging and length of storage time had a significant effect on product quality such as water content, ash content, protein content, carbohydrate content and organoleptic tests. The best treatment carried out in the 20-day study was aluminum foil packaging with a total moisture content of(8.04% - 10.47%), ash level (3.10% - 3.62%), protein level (10.00% - 9.00%), carbohydrate level (68.40% - 67.64%). ) and organoleptic, color (4.08 - 3.69), texture (3.97 - 3.53), aroma (3.97 - 3.65), and taste (4.08 - 3.70).
Faktor yang Mempengaruhi Peran Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Petani di Kabupaten Banyumas Hermawan, Andy; Wakhidati, Yusmi Nur; Sari, Lilik Kartika
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 8 (2025): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v8i.1475

Abstract

Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S), sebagai perpanjangan tangan Kementerian Pertanian, memiliki peran strategis dalam transfer ilmu kepada petani. Berdasarkan Renstra Kementan 2016, P4S berfungsi sebagai fasilitator pelatihan, mediator dalam penyuluhan dan pengembangan teknologi, serta pengembang jejaring usaha tani. Melalui perannya, P4S mendukung pemberdayaan petani dengan meningkatkan pengetahuan teknis, memberikan akses ke pasar, dan menyediakan dukungan finansial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor- faktor yang memengaruhi peran P4S dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani di Kabupaten Banyumas. Faktor internal mencakup tata kelola lembaga, kapasitas lembaga, manajemen lembagan, dan kerja sama dengan dinas pertanian, sedangkan faktor eksternal meliputi karakteristik petani peserta P4S. Penelitian dilakukan pada Juli–Agustus 2024 dengan melibatkan 75 responden petani peserta P4S. Metode yang digunakan adalah survei, yang bertujuan memperoleh fakta dan informasi faktual dari sampel populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yang dikumpulkan melalui wawancara. Analisis data dilakukan menggunakan metode PLS (Partial Least Square) dengan perangkat lunak SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola kelembagaan, kerja sama dengan dinas pertanian, dan karakteristik petani berpengaruh signifikan terhadap peran P4S. Faktor-faktor ini juga berkontribusi pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani. Kerja sama dengan dinas pertanian ditemukan sebagai faktor paling penting, yang memberikan pengaruh signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas P4S dalam pelatihan, penyuluhan, dan pendampingan petani di Kabupaten Banyumas.
Efficiency Study Of Quail Egg Marketing System At CV. Djion Puyuh In Somba Opu District Gowa Regency Andy Hermawan; Imam Mustafa; Kharismafullah Kharismafullah; Manah
ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 4 No. 6 (2026): ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisplin, Juni 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/armada.v4i6.2584

Abstract

This study aimed to analyze marketing channels, marketing efficiency, farmers’ share, and the profit–cost ratio in quail egg marketing at CV Djion Puyuh, Somba Opu District, Gowa Regency. The study used qualitative and quantitative analyses. Data were collected through direct interviews with producers and marketing institutions involved in product distribution. Marketing channel analysis identified the flow of products and the institutions participating in each channel, while marketing function analysis examined exchange activities conducted by those institutions. Marketing margin was calculated as the difference between the price paid by consumers and the price received by producers. The results showed that CV Djion Puyuh used two marketing channels, both of which were categorized as efficient. This condition was reflected in a farmers’ share exceeding 50%, reaching 93%. The R/C ratio was greater than one, indicating that revenue exceeded marketing costs. Retailers earned a profit of IDR 2,000 with marketing costs of IDR 12,000, resulting in a profit–cost ratio of 16%. These findings indicate that the existing marketing system was economically efficient.
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Peternak melalui Penyuluhan Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong di Desa Lanta Kecamatan Lambu Kabupaten Bima Kharismafullah Kharismafullah; Andy Hermawan; Masnah Masnah; Baharudin Baharudin; Imam Akbar; Faisal Sa'ban; Yayan Anggriani; Nurwahidah Nurwahidah; Khairunnisah Khairunnisah
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 7 (2026): SWARNA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Juli, 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v5i7.3633

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak melalui penyuluhan manajemen pemeliharaan sapi potong di Desa Lanta, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman peternak mengenai penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, khususnya dalam aspek pemberian pakan, perkandangan, kesehatan ternak, sanitasi, dan pengelolaan reproduksi. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi observasi awal, penyuluhan, diskusi interaktif, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi terhadap tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Materi penyuluhan disampaikan secara partisipatif dengan mengintegrasikan pengalaman peternak dan kondisi nyata usaha peternakan di wilayah Desa Lanta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penyuluhan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengelola usaha pemeliharaan sapi potong. Peternak memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya penyediaan pakan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan nutrisi ternak, penerapan kebersihan kandang, pencegahan dan pengendalian penyakit, serta pengelolaan pemeliharaan secara lebih terarah dan efisien. Selain itu, kegiatan ini mendorong peningkatan kesadaran peternak untuk menerapkan praktik pemeliharaan yang lebih baik sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak. Kegiatan penyuluhan diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan melalui pendampingan dan monitoring sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan usaha peternakan. Dengan demikian, penyuluhan manajemen pemeliharaan menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan sapi potong di Desa Lanta, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.
Analysis of Location Quotient (LQ) and Beef Cattle Value Chain in Woha, Monta, and Bolo Districts, Bima Regency Kharismafullah Kharismafullah; Khairunnisah Khairunnisah; Andy Hermawan
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 1 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i1.5480

Abstract

This study aims to analyze the comparative advantage of beef cattle in three livestock center subdistricts of Bima Regency, namely Woha, Monta, and Bolo, using the Location Quotient (LQ) approach and a value chain analysis of beef cattle producers in Bima Regency. The LQ analysis was conducted by comparing the contribution of the beef cattle population in each subdistrict to the total beef cattle population in Bima Regency and West Nusa Tenggara Province. The results show that the three subdistricts have LQ values > 1, indicating that beef cattle are a basic commodity in the region. This study also examines the beef cattle value chain in Bima Regency, which has not yet been efficient due to limitations in technology, productivity, and the bargaining position of farmers. Strengthening an integrated upstream–downstream system is required to increase value added and regional economic competitiveness.