p-Index From 2021 - 2026
0.702
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Psikologi
Ni Made S. Wulanyani
Udayana University

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KEBIJAKAN RAMAH KELUARGA PADA NEGARA RAMAH KELUARGA VERSI UNICEF: SEBUAH KAJIAN CAKUPAN Naomi Vembriati; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.384

Abstract

Kajian ini bertujuan memetakan implementasi kebijakan ramah keluarga (family-friendly policies/FFP) pada negara-negara yang dipandang paling ramah keluarga menurut UNICEF (2019), yaitu Swedia, Norwegia, dan Islandia. Metode yang digunakan adalah scoping review dengan panduan PRISMA-ScR dan kerangka CHIP untuk merumuskan pertanyaan kajian, strategi pencarian, serta kriteria inklusi-eksklusi. Pencarian literatur dilakukan pada basis data Science Direct, EBSCOhost, dan Emerald dengan rentang publikasi 2011–2021. Dari 895 artikel yang teridentifikasi, 24 artikel memenuhi kriteria akhir dan dianalisis dengan pendekatan analisis tematik. Hasil menunjukkan tiga kategori utama kebijakan ramah keluarga: (1) pengaturan kerja fleksibel (flexitime, kerja paruh waktu, pengurangan jam kerja), (2) cuti orang tua berbayar, termasuk cuti ayah yang tidak dapat dipindahtangankan, dan (3) kebijakan perawatan anak melalui layanan penitipan bersubsidi maupun tunjangan finansial. Implementasi kebijakan di negara Nordik dipengaruhi oleh Model Nordik yang menekankan kesetaraan, solidaritas, dan universalisme. Pemanfaatan kebijakan tinggi, khususnya cuti ayah dan layanan perawatan anak, yang berdampak pada peningkatan partisipasi kerja perempuan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan, serta kesejahteraan keluarga. Dibandingkan dengan Indonesia, dukungan negara Nordik jauh lebih komprehensif, namun arah kebijakan di Indonesia menunjukkan perkembangan positif melalui regulasi baru dan inisiatif perusahaan.
STUDI LITERATUR: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU CYBERLOAFING PADA MAHASISWA I Gusti A. R. Dewanti; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.393

Abstract

Cyberloafing merupakan perilaku penggunaan internet untuk kepentingan non-akademik selama proses belajar yang semakin marak terjadi di kalangan mahasiswa. Fenomena ini dipicu oleh kemajuan teknologi digital serta tantangan psikologis dan akademik yang dihadapi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku cyberloafing melalui pendekatan literature review. Data dikumpulkan dari dua database utama, yaitu Google Scholar dan Portal Garuda, dengan kriteria inklusi mencakup publikasi tahun 2020–2025, studi kuantitatif, dan subjek mahasiswa. Dari 927 artikel yang diidentifikasi, delapan artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara tematik. Hasil analisis menunjukkan empat domain utama yang memengaruhi perilaku cyberloafing pada mahasiswa, yaitu: (1) faktor kepribadian (extraversion dan conscientiousness), (2) regulasi diri dan aspek emosional (self-control, kejenuhan belajar), (3) lingkungan akademik (gaya mengajar dosen dan stres akademik), dan (4) faktor sosial dan teknologi (fear of missing out/FoMO). Temuan ini menegaskan bahwa cyberloafing merupakan respons kompleks terhadap dinamika internal dan eksternal dalam lingkungan perkuliahan. Diperlukan strategi preventif yang komprehensif, seperti pelatihan regulasi diri, inovasi pengajaran, dan kebijakan literasi digital untuk meminimalisir dampak negatif cyberloafing pada proses belajar mahasiswa.
MEMAHAMI FAKTOR-FAKTOR RESILIENSI PADA INDIVIDU PENYANDANG TUNADAKSA Dhaneswara Amara; Ida Ayu G. K. Widihapsari; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.395

Abstract

Kajian literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada individu penyandang tunadaksa, yang kerap menghadapi tantangan psikososial kompleks di luar keterbatasan fisik. Resiliensi dipahami sebagai proses dinamis yang terbentuk melalui kekuatan personal (seperti regulasi emosi, optimisme, dan efikasi diri), dukungan eksternal (keluarga, teman, komunitas), serta pemaknaan terhadap pengalaman hidup. Berdasarkan sintesis terhadap sepuluh studi empiris terbitan tahun 2016–2025, ditemukan bahwa faktor-faktor utama pembentuk resiliensi mencakup atribut internal seperti empati, kontrol impuls, dan analisis kausal, serta sumber daya eksternal yang diklasifikasikan dalam model Grotberg “I Have, I Am, I Can”. Temuan menunjukkan bahwa bentuk resiliensi bervariasi menurut usia, konteks sosial, dan jenis disabilitas (bawaan vs. non-bawaan). Remaja lebih bergantung pada dukungan sosial, sementara dewasa muda cenderung mengandalkan refleksi diri dan penerimaan. Faktor spiritualitas juga muncul sebagai pelindung psikologis. Kajian ini memberikan landasan konseptual untuk merancang intervensi psikososial yang kontekstual dan berbasis kekuatan guna mendukung adaptasi dan kualitas hidup penyandang tunadaksa.
MEMAHAMI PENYEBAB ANAK MUDA MEMILIH BERADA DALAM HUBUNGAN TANPA STATUS: STUDI LITERATUR Cecilia Fransiska; Ni Made D. Saraswati; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.397

Abstract

Generasi muda saat ini, terutama kelompok Gen Z, semakin banyak yang memilih menjalani hubungan tanpa status (HTS) sebagai bentuk relasi romantis. Pola hubungan ini dianggap lebih sesuai dengan nilai kebebasan dan fleksibilitas yang berkembang pada kalangan anak muda karena tidak menuntut adanya komitmen yang jelas antara kedua pihak. Meskipun demikian, ketiadaan komitmen tersebut sering kali membuat hubungan sulit berkembang menuju tahap yang lebih serius, seperti pernikahan. Tinjauan pustaka ini dilakukan melalui penelusuran artikel ilmiah pada Google Scholar dengan kriteria publikasi dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan proses seleksi, diperoleh sepuluh penelitian yang dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa HTS semakin umum ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Hubungan ini dipilih karena memberikan keleluasaan dalam menjalin kedekatan tanpa ikatan formal. Walaupun tidak memiliki status resmi, HTS tetap dapat melibatkan rasa percaya, kepuasan hubungan, dan kedekatan emosional. Selain itu, HTS memiliki kemiripan dengan casual relationship dan friends with benefits. Namun, minimnya komitmen berpotensi menimbulkan hubungan yang tidak pasti serta berbagai konsekuensi emosional dan psikologis bagi individu yang terlibat.