Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya pada bidang kajian Fikih dan Akhlak, sering kali terjebak dalam pendekatan monodisipliner yang kaku dan terisolasi dari realitas kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan merumuskan metodologi rekonstruksi pembelajaran PAI melalui pendekatan interdisipliner dan transdisipliner yang mengintegrasikan ajaran nilai agama dengan aspek sosiologi, dinamika budaya, dan disrupsi teknologi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan studi pustaka serta tinjauan pedagogis terhadap model pembelajaran kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan transdisipliner mampu mendekonstruksi sekat keilmuan tradisional sehingga nilai-nilai Fikih dan Akhlak dapat dioperasionalkan secara konkret dalam memecahkan masalah riil masyarakat modern. Interseksi ini dipetakan ke dalam tiga domain utama: (1) PAI dan Teknologi (etika kecerdasan buatan, digitalisasi transaksi, dan literasi digital); (2) PAI dan Sosiologi (keadilan ekonomi zakat profesi dan sosiologi lingkungan); serta (3) PAI dan Budaya (penggunaan adat 'urf sebagai basis toleransi). Implementasi praktis di ruang kelas disajikan melalui tiga model taktis: Project-Based Learning (PBL), Case-Based Learning (CBL), dan Inquiry Lintas Disiplin. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa reformasi kurikulum PAI menuju model integratif sangat krusial untuk melahirkan generasi muslim yang tidak hanya saleh secara ritual tetapi juga adaptif, kritis, dan mampu menghadirkan solusi etis (Rahmatan lil 'Alamin) di tengah kompleksitas dunia modern.