Muzammil
Universitas Al Falah As - Sunniyah Kencong Jember

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Fungsi Al-Quwwah Al-Alimah (Daya Mengetahui) dalam Membentuk Karakter Ulul Albab: Studi Tokoh Al-Ghazali Husen Husen; Ahmad Taufiq; Muzammil; Iwan Fikri; Titin Nurhidayati
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2551

Abstract

Abstrak ini menganalisis fungsi al-quwwah al-‘ālimah (daya mengetahui) dalam pembentukan karakter ulul albab berdasarkan pemikiran Al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana struktur daya mengetahui dalam jiwa menurut Al-Ghazali dapat menjadi landasan konseptual bagi pembentukan sosok ulul albab yang berimbang secara intelektual, spiritual, dan moral. Latar belakang kajian ini bertumpu pada kebutuhan pendidikan Islam kontemporer untuk melahirkan manusia berkarakter ulul albab, yaitu sosok yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan ilmu, dan kematangan akhlak di tengah krisis moral modern. Pemikiran Al-Ghazali diposisikan sebagai kerangka klasik yang relevan, karena ia merumuskan struktur jiwa dan sumber-sumber ilmu (indra, akal, dan ilham) secara sistematis serta mengaitkannya dengan tujuan pendidikan, yakni kebahagiaan dunia–akhirat melalui tazkiyatun nafs dan pembentukan akhlak mulia. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis-filosofis terhadap karya-karya utama Al-Ghazali, seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, dan tulisan-tulisan tentang jiwa dan akal, yang kemudian didialogkan dengan literatur tentang ulul albab dan pendidikan karakter. Data dianalisis melalui langkah pengumpulan, klasifikasi, dan interpretasi konsep-konsep kunci tentang al-quwwah al-‘ālimah serta karakter ulul albab, sehingga tampak hubungan fungsional antara struktur daya mengetahui dan pembentukan kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-quwwah al-‘ālimah pada Al-Ghazali, yang mencakup akal teoretis, praktis, dan keterbukaan pada ilham, berfungsi sebagai pusat pengolahan pengetahuan yang mengarahkan kehendak dan perilaku moral. Ketika daya mengetahui ini dibina melalui kombinasi dzikr, fikr, dan amal saleh sebagaimana karakter ulul albab dalam Al-Qur’an, ia melahirkan pribadi yang kokoh akidah, tajam nalar, lembut spiritualitas, serta berakhlak mulia dalam perilaku sosial. kesimpulannya, integrasi konsep al-quwwah al-‘ālimah Al-Ghazali dengan ideal ulul albab menyediakan landasan teoritis yang kuat bagi desain pendidikan karakter Islam yang holistik. Penguatan daya mengetahui bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi spiritual dan etis, dipandang strategis untuk membentuk generasi ulul albab yang mampu merespons tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi tauhid dan akhlak
EVALUASI PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH Iwan Fikri; Husen; Muzammil; Nanang Budianto
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2764

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) menggunakan model Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian evaluatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, wakil kepala bidang kurikulum, guru PAI, tim pengembang kurikulum, dan peserta didik. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek konteks, pengembangan kurikulum telah sesuai dengan visi dan misi lembaga, kebutuhan peserta didik, serta kebijakan pendidikan nasional. Pada aspek input, ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan perangkat pembelajaran telah mendukung implementasi kurikulum meskipun pemanfaatan teknologi masih perlu ditingkatkan. Pada aspek proses, implementasi kurikulum berjalan cukup baik melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, namun masih ditemukan kendala dalam penerapan asesmen autentik dan pembelajaran diferensiasi. Pada aspek produk, kurikulum memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Dengan demikian, pengembangan kurikulum PAI telah berjalan efektif, namun memerlukan penyempurnaan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
BAGAIMANA PENDEKATAN TRANSDISIPLINER/INTERDISIPLINER DALAM PAI: MENGHUBUNGKAN FIKIH/AKHLAK DENGAN SOSIOLOGI, BUDAYA, DAN TEKNOLOGI Is`adur Rofiq; Husen; Muzammil; Iwan Fikri; Muhammad Hori
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2765

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya pada bidang kajian Fikih dan Akhlak, sering kali terjebak dalam pendekatan monodisipliner yang kaku dan terisolasi dari realitas kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan merumuskan metodologi rekonstruksi pembelajaran PAI melalui pendekatan interdisipliner dan transdisipliner yang mengintegrasikan ajaran nilai agama dengan aspek sosiologi, dinamika budaya, dan disrupsi teknologi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan studi pustaka serta tinjauan pedagogis terhadap model pembelajaran kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan transdisipliner mampu mendekonstruksi sekat keilmuan tradisional sehingga nilai-nilai Fikih dan Akhlak dapat dioperasionalkan secara konkret dalam memecahkan masalah riil masyarakat modern. Interseksi ini dipetakan ke dalam tiga domain utama: (1) PAI dan Teknologi (etika kecerdasan buatan, digitalisasi transaksi, dan literasi digital); (2) PAI dan Sosiologi (keadilan ekonomi zakat profesi dan sosiologi lingkungan); serta (3) PAI dan Budaya (penggunaan adat 'urf sebagai basis toleransi). Implementasi praktis di ruang kelas disajikan melalui tiga model taktis: Project-Based Learning (PBL), Case-Based Learning (CBL), dan Inquiry Lintas Disiplin. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa reformasi kurikulum PAI menuju model integratif sangat krusial untuk melahirkan generasi muslim yang tidak hanya saleh secara ritual tetapi juga adaptif, kritis, dan mampu menghadirkan solusi etis (Rahmatan lil 'Alamin) di tengah kompleksitas dunia modern.
RAHMA EL YUNUSI DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN Muzammil; Ahmad Taufiq; Husen; Iwan Fikri; Akhmad Zaeni
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2766

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif kontribusi pemikiran dan paradigma pedagogis Rahmah El Yunusiah (1900–1969), seorang tokoh sentral dalam gerakan emansipasi pendidikan Islam perempuan di Indonesia. Fokus utama penelitian terletak pada analisis historis pendirian Madrasah Diniyyah Puteri pada tahun 1923, yang menjadi tonggak lahirnya institusi pendidikan Islam modern khusus perempuan. Menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, data primer dari dokumen sejarah dan arsip institusi dianalisis melalui teknik analisis isi (content analysis) untuk membedah relevansi pemikiran Rahmah dalam konteks pendidikan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Rahmah bersifat transdisipliner, dengan keberanian mengintegrasikan teologi Islam, kurikulum ilmu pengetahuan umum, serta keterampilan praktis yang mampu menyeimbangkan kemandirian intelektual dan spiritual. Model pendidikan ini tidak hanya diakui keunggulannya secara internasional oleh Universitas Al-Azhar, tetapi juga menjadi instrumen perjuangan kebangsaan yang krusial. Atas kontribusi besar dalam mencerdaskan bangsa dan memperkuat basis perempuan dalam kemerdekaan, Rahmah El Yunusiah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025. Temuan ini menegaskan bahwa konsep pendidikan Rahmah sangat relevan untuk diadaptasi dalam manajemen pendidikan masa kini, khususnya dalam strategi pemberdayaan perempuan, inklusivitas pendidikan, dan pembentukan karakter pendidik yang memadukan integritas spiritual dengan kecakapan intelektual yang progresif.
MORALITAS DAN PENYIMPANGAN PERILAKU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM: ANALISIS FAKTOR PENYEBAB DAN UPAYA PENGUATAN KARAKTER Muzammil; Ahmad Taufiq; Husen; Iwan Fikri; Asnawan
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2767

Abstract

Fenomena pergeseran nilai moral dan meningkatnya berbagai bentuk penyimpangan perilaku menjadi tantangan serius dalam kehidupan masyarakat modern. Perkembangan teknologi, globalisasi, serta perubahan pola interaksi sosial turut memengaruhi cara individu memahami dan mengamalkan nilai-nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab penyimpangan perilaku serta mengkaji upaya penguatan karakter dalam perspektif pendidikan Islam. Penelitian menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan memanfaatkan berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyimpangan perilaku dipengaruhi oleh faktor internal, seperti lemahnya kontrol diri dan rendahnya pemahaman nilai agama, serta faktor eksternal yang meliputi lingkungan keluarga, pengaruh teman sebaya, perkembangan media digital, dan menurunnya efektivitas lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai moral. Dalam perspektif pendidikan Islam, penguatan karakter dapat dilakukan melalui internalisasi nilai-nilai akhlak, keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan perilaku positif, serta sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tantangan perubahan sosial secara bijaksana.
Analisis Kebijakan Supervisi Akademik Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Husen; Muzammil; Iwan Fikri; Titin Nurhidayati
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2768

Abstract

Kebijakan pendidikan nasional secara ajek menempatkan peningkatan kualitas pendidik sebagai pilar utama transformasi mutu di lingkungan madrasah. Sebagai pemimpin instruksional, kepala madrasah memegang peranan yang sangat strategis dalam memantau, mengevaluasi, dan membimbing proses pembelajaran melalui instrumen supervisi akademik. Namun, dalam realitasnya, pelaksanaan supervisi sering kali terjebak dalam formalitas birokratis-administratif, sehingga kurang berdampak nyata terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru di dalam kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data dikumpulkan secara sistematis dari pelbagai literatur mutakhir, termasuk regulasi pemerintah, jurnal ilmiah bereputasi, dan buku teks manajemen pendidikan. Proses analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan dengan teknik analisis konten (content analysis) yang ketat guna memastikan validitas dan teoretis yang tinggi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa efektivitas kebijakan supervisi akademik sangat ditentukan oleh penerapan model klinis yang humanis, transparan, dan dialogis. Melalui komunikasi interpersonal yang apresiatif, supervisi terbukti berdampak linear terhadap penguatan kompetensi pedagogik guru, khususnya dalam merancang pembelajaran berpusat pada siswa, manajemen kelas, integrasi teknologi informasi, serta penyusunan asesmen autentik berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Kendala waktu dan budaya pekewuh dapat diatasi secara taktis melalui model supervisi sejawat (peer supervision). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan peningkatan kompetensi pedagogik guru memerlukan komitmen jangka panjang dan pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making). Hasil evaluasi supervisi akademik harus dikonversi menjadi landasan utama penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) guru yang tepat sasaran. Dengan menjadikan supervisi sebagai urat nadi pengembangan profesi, madrasah akan bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang adaptif dan bermutu tinggi.
EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATA PELAJARAN FIKIH DI KELAS VIII: STUDI DESKRIPTIF DI MADRASAH TSANAWIYAH Muzammil; Moh.Sahlan
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2782

Abstract

Evaluasi pembelajaran merupakan salah satu unsur penting dalam proses pendidikan yang berfungsi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran, memantau perkembangan peserta didik, serta menjadi landasan dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran. Dalam mata pelajaran Fikih pada Pendidikan Agama Islam (PAI), evaluasi tidak hanya diarahkan pada pengukuran kemampuan kognitif, tetapi juga mencakup aspek afektif dan psikomotorik yang tercermin dalam sikap, perilaku, serta praktik ibadah peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, diperlukan sistem evaluasi yang menyeluruh, objektif, dan berkesinambungan agar kompetensi yang ditargetkan dapat tercapai secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut evaluasi pembelajaran Fikih di kelas VIII, serta mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi guru dan strategi yang diterapkan untuk mengatasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam, serta studi dokumentasi berupa modul ajar, instrumen penilaian, dan hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan evaluasi telah disusun sesuai dengan tujuan dan capaian pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang berlaku. Instrumen penilaian yang digunakan telah mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pelaksanaannya, guru menerapkan berbagai teknik evaluasi, seperti tes tertulis, tes lisan, penugasan, observasi sikap, dan praktik ibadah sebagai bentuk asesmen autentik. Namun demikian, penilaian aspek kognitif masih lebih dominan dibandingkan aspek afektif dan psikomotorik. Penelitian ini juga menemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan evaluasi, antara lain keterbatasan waktu, jumlah peserta didik yang cukup besar dalam satu kelas, serta kesulitan guru dalam menyusun instrumen asesmen autentik yang mampu mengukur kompetensi peserta didik secara komprehensif. Untuk mengatasi kendala tersebut, guru melakukan variasi teknik penilaian, memanfaatkan teknologi digital dalam pengelolaan hasil evaluasi, dan mengikuti kegiatan pengembangan profesional guna meningkatkan kompetensi dalam bidang asesmen.
Analisis Fungsi Al-Quwwah Al-Alimah (Daya Mengetahui) dalam Membentuk Karakter Ulul Albab: Studi Tokoh Al-Ghazali Husen Husen; Ahmad Taufiq; Muzammil; Iwan Fikri; Titin Nurhidayati
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2551

Abstract

Abstrak ini menganalisis fungsi al-quwwah al-‘ālimah (daya mengetahui) dalam pembentukan karakter ulul albab berdasarkan pemikiran Al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana struktur daya mengetahui dalam jiwa menurut Al-Ghazali dapat menjadi landasan konseptual bagi pembentukan sosok ulul albab yang berimbang secara intelektual, spiritual, dan moral. Latar belakang kajian ini bertumpu pada kebutuhan pendidikan Islam kontemporer untuk melahirkan manusia berkarakter ulul albab, yaitu sosok yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan ilmu, dan kematangan akhlak di tengah krisis moral modern. Pemikiran Al-Ghazali diposisikan sebagai kerangka klasik yang relevan, karena ia merumuskan struktur jiwa dan sumber-sumber ilmu (indra, akal, dan ilham) secara sistematis serta mengaitkannya dengan tujuan pendidikan, yakni kebahagiaan dunia–akhirat melalui tazkiyatun nafs dan pembentukan akhlak mulia. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis-filosofis terhadap karya-karya utama Al-Ghazali, seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, dan tulisan-tulisan tentang jiwa dan akal, yang kemudian didialogkan dengan literatur tentang ulul albab dan pendidikan karakter. Data dianalisis melalui langkah pengumpulan, klasifikasi, dan interpretasi konsep-konsep kunci tentang al-quwwah al-‘ālimah serta karakter ulul albab, sehingga tampak hubungan fungsional antara struktur daya mengetahui dan pembentukan kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-quwwah al-‘ālimah pada Al-Ghazali, yang mencakup akal teoretis, praktis, dan keterbukaan pada ilham, berfungsi sebagai pusat pengolahan pengetahuan yang mengarahkan kehendak dan perilaku moral. Ketika daya mengetahui ini dibina melalui kombinasi dzikr, fikr, dan amal saleh sebagaimana karakter ulul albab dalam Al-Qur’an, ia melahirkan pribadi yang kokoh akidah, tajam nalar, lembut spiritualitas, serta berakhlak mulia dalam perilaku sosial. kesimpulannya, integrasi konsep al-quwwah al-‘ālimah Al-Ghazali dengan ideal ulul albab menyediakan landasan teoritis yang kuat bagi desain pendidikan karakter Islam yang holistik. Penguatan daya mengetahui bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi spiritual dan etis, dipandang strategis untuk membentuk generasi ulul albab yang mampu merespons tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi tauhid dan akhlak
EVALUASI PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH Iwan Fikri; Husen; Muzammil; Nanang Budianto
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2764

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) menggunakan model Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian evaluatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, wakil kepala bidang kurikulum, guru PAI, tim pengembang kurikulum, dan peserta didik. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek konteks, pengembangan kurikulum telah sesuai dengan visi dan misi lembaga, kebutuhan peserta didik, serta kebijakan pendidikan nasional. Pada aspek input, ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan perangkat pembelajaran telah mendukung implementasi kurikulum meskipun pemanfaatan teknologi masih perlu ditingkatkan. Pada aspek proses, implementasi kurikulum berjalan cukup baik melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, namun masih ditemukan kendala dalam penerapan asesmen autentik dan pembelajaran diferensiasi. Pada aspek produk, kurikulum memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Dengan demikian, pengembangan kurikulum PAI telah berjalan efektif, namun memerlukan penyempurnaan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
BAGAIMANA PENDEKATAN TRANSDISIPLINER/INTERDISIPLINER DALAM PAI: MENGHUBUNGKAN FIKIH/AKHLAK DENGAN SOSIOLOGI, BUDAYA, DAN TEKNOLOGI Is`adur Rofiq; Husen; Muzammil; Iwan Fikri; Muhammad Hori
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2026): Sirajuddin Juni 2026
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i2.2765

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya pada bidang kajian Fikih dan Akhlak, sering kali terjebak dalam pendekatan monodisipliner yang kaku dan terisolasi dari realitas kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan merumuskan metodologi rekonstruksi pembelajaran PAI melalui pendekatan interdisipliner dan transdisipliner yang mengintegrasikan ajaran nilai agama dengan aspek sosiologi, dinamika budaya, dan disrupsi teknologi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan studi pustaka serta tinjauan pedagogis terhadap model pembelajaran kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan transdisipliner mampu mendekonstruksi sekat keilmuan tradisional sehingga nilai-nilai Fikih dan Akhlak dapat dioperasionalkan secara konkret dalam memecahkan masalah riil masyarakat modern. Interseksi ini dipetakan ke dalam tiga domain utama: (1) PAI dan Teknologi (etika kecerdasan buatan, digitalisasi transaksi, dan literasi digital); (2) PAI dan Sosiologi (keadilan ekonomi zakat profesi dan sosiologi lingkungan); serta (3) PAI dan Budaya (penggunaan adat 'urf sebagai basis toleransi). Implementasi praktis di ruang kelas disajikan melalui tiga model taktis: Project-Based Learning (PBL), Case-Based Learning (CBL), dan Inquiry Lintas Disiplin. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa reformasi kurikulum PAI menuju model integratif sangat krusial untuk melahirkan generasi muslim yang tidak hanya saleh secara ritual tetapi juga adaptif, kritis, dan mampu menghadirkan solusi etis (Rahmatan lil 'Alamin) di tengah kompleksitas dunia modern.