Hayu Susilowati
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kesalahan Siswa pada Materi Fungsi Kuadrat Berdasarkan Teori Kastolan dan Tahap Pemecahan Masalah Polya Hayu Susilowati; Sintha Sih Dewanti; Sumbaji Putranto
JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026): JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jagomipa.v6i3.4693

Abstract

Kesalahan siswa pada materi fungsi kuadrat perlu dianalisis karena materi ini tidak hanya menuntut kemampuan melakukan perhitungan, tetapi juga pemahaman konsep, penyusunan strategi penyelesaian, dan kemampuan menafsirkan hasil. Analisis kesalahan penting dilakukan untuk mengetahui letak kesulitan siswa secara lebih mendalam sehingga dapat menjadi dasar perbaikan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal fungsi kuadrat berdasarkan teori Kastolan dan tahap pemecahan masalah Polya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek 6 siswa kelas X MAN 1 Sleman yang dipilih berdasarkan variasi jenis kesalahan. Data diperoleh melalui tes tertulis dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan konseptual merupakan jenis kesalahan paling dominan sebesar 46,15%, diikuti kesalahan prosedural sebesar 43,59%, dan kesalahan teknis sebesar 10,26%. Kesalahan konseptual tampak pada ketidakmampuan siswa memahami makna fungsi kuadrat dalam konteks masalah, menentukan titik puncak, nilai minimum, dan unsur-unsur fungsi kuadrat. Kesalahan prosedural muncul dalam bentuk langkah penyelesaian yang tidak runtut, prosedur yang tidak lengkap, dan tidak adanya pemeriksaan kembali. Kesalahan teknis meliputi kesalahan operasi hitung, penulisan simbol, dan penyederhanaan aljabar. Berdasarkan tahap Polya, kesalahan konseptual banyak terjadi pada tahap memahami masalah dan merencanakan penyelesaian, sedangkan kesalahan prosedural dominan pada tahap melaksanakan rencana dan memeriksa kembali. Integrasi teori Kastolan dan tahap Polya memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai karakteristik kesalahan siswa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan dan menguji efektivitas strategi pembelajaran yang berorientasi pada penguatan pemahaman konsep, ketepatan prosedur, dan pembiasaan memeriksa kembali jawaban pada materi fungsi kuadrat.
Analisis Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Matematika dengan Hasil Ujian Madrasah Hayu Susilowati; Dzurotun Ni'mah; Sugiyanto Sugiyanto
Saintifik: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya Vol 12 No 2 (2026): Saintifik: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/saintifik.v12i2.653

Abstract

Persepsi siswa terhadap matematika merupakan salah satu faktor psikologis yang memengaruhi keberhasilan belajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi siswa terhadap matematika dan hasil ujian madrasah serta membangun model matematika yang merepresentasikan hubungan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Yogyakarta sebanyak 201 siswa; sampel 115 siswa dipilih melalui proportional random sampling. Data persepsi diperoleh melalui angket skala Likert dengan 28 butir pernyataan (α = 0.889), sedangkan data hasil belajar bersumber dari nilai ujian madrasah mata pelajaran matematika. Analisis data meliputi statistik deskriptif, korelasi Spearman, dan regresi linier sederhana pasca transformasi logaritmik. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa dan nilai ujian dengan kekuatan korelasi yang tergolong lemah dan persepsi siswa menjelaskan sebesar 11.9% variansi nilai ujian. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya intervensi pedagogis yang terstruktur untuk memperkuat persepsi positif siswa terhadap matematika, khususnya melalui pendekatan kontekstual, scaffolding bertahap, dan umpan balik formatif yang konstruktif.