Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Sistem Pengolahan Data Kesehatan Prajurit Yonif 312/Kala Hitam Dalam Mendukung Tugas Operasi Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia – Papua Nugini Wulan Wydiastuti; Mitro Prihantoro; Marsono
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8711

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengelolaan data kesehatan prajurit yang akurat, terintegrasi, dan adaptif sebagai faktor strategis dalam mendukung kesiapan operasional TNI Angkatan Darat, khususnya pada Operasi Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG). Meskipun pemeriksaan kesehatan telah dilaksanakan secara komprehensif, masih terdapat kesenjangan antara kondisi ideal (das sollen) dan realitas lapangan (das sein), di mana sistem pengelolaan data kesehatan pada Yonif 312/Kala Hitam masih bersifat manual sehingga menghambat efektivitas pelaporan, pelacakan kesiapan personel, dan proses rujukan medis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kualitas pengelolaan data kesehatan prajurit, strategi pengolahan data yang andal dan adaptif, serta mengidentifikasi dampaknya terhadap efektivitas operasi Pamtas RI–PNG. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan Nvivo 12 Plus dengan teknik coding tematik dan analisis hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas data kesehatan secara klinis telah memenuhi prinsip Force Health Protection (FHP) dan pendekatan kesehatan holistik, namun masih terdapat kelemahan pada integrasi sistem yang menyebabkan keterlambatan pembaruan data dan potensi duplikasi. Health Information System (HIS) militer adaptif yang dihasilkan mencakup offline–online synchronization, secure military health network, dan integrated medical logistics, yang meningkatkan interoperabilitas, efisiensi logistik, serta kecepatan evakuasi dan pengambilan keputusan. Sistem ini juga berfungsi sebagai Decision Support System (DSS). Kesimpulannya, sistem pengelolaan data kesehatan digital terintegrasi menjadi instrumen strategis berbasis data dalam meningkatkan kesiapan operasional dan keberhasilan operasi Pamtas RI–PNG.
Strategi Distribusi Logistik Guna Pemenuhan Kebutuhan Bekal Kelas 1 Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia-Malaysia Chandra Setia Wibawa; Mitro Prihantoro; Marsono
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8712

Abstract

Penelitian ini mengkaji sistem distribusi bekal kelas 1 bagi Satgas Pamtas RI-Malaysia di wilayah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur yang belum berjalan optimal. Hambatan utama meliputi keterbatasan infrastruktur, medan ekstrem, keterbatasan moda transportasi, dan sistem informasi logistik yang belum terintegrasi. Penelitian bertujuan menganalisis kondisi aktual distribusi bekal kelas 1, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas penyaluran bekal, serta merumuskan strategi distribusi logistik yang optimal. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain fenomenologi, melalui wawancara mendalam terhadap lima informan kunci, observasi lapangan, dan analisis dokumen. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, diperkuat dengan perangkat lunak NVivo. Hasil penelitian menunjukkan distribusi berjalan sesuai prosedur namun belum optimal. Ditemukan keterlambatan pengiriman bekal di pos-pos terpencil, kekurangan personel logistik, keterbatasan dukungan angkutan udara akibat alokasi Avtur yang terbatas, serta sistem informasi logistik yang masih dikelola secara manual. Strategi yang dirumuskan menggunakan kerangka Ends-Ways-Means mencakup penguatan infrastruktur gudang transit, integrasi teknologi informasi dalam manajemen distribusi, penguatan koordinasi lintas instansi, serta peningkatan fleksibilitas sistem melalui jalur dan prosedur alternatif.
Proses Pendidikan Pertama Bintara Dalam Pengawakan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan di Halmahera Selatan Aditya Kurnia Rahman; Mitro Prihantoro; Marsono
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8763

Abstract

Pengawakan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) di Halmahera Selatan memerlukan prajurit Bintara yang tidak hanya memiliki kemampuan dasar kemiliteran, tetapi juga kompetensi dalam mendukung pembangunan wilayah dan pembinaan teritorial. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) dengan tuntutan tugas pada Yonif Teritorial Pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses rekrutmen calon peserta Dikmaba, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan pendidikan, serta menganalisis dampak pendidikan terhadap kualitas lulusan dalam mendukung tugas teritorial pembangunan di Halmahera Selatan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap empat informan yang terdiri atas Komandan Sekolah Calon Bintara, Kepala Urusan Operasi, Kepala Urusan Pengamanan, dan pelatih Sekolah Calon Bintara. Data dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses rekrutmen telah dilaksanakan secara sistematis melalui seleksi administrasi, kesehatan, kesamaptaan jasmani, mental ideologi, dan psikologi, namun belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan spesifik Yonif TP. Faktor pendukung pendidikan meliputi sistem pendidikan yang terstruktur, tenaga pelatih yang berpengalaman, fasilitas yang memadai, dan kedisiplinan siswa, sedangkan faktor penghambat utama adalah keterbatasan waktu pendidikan, belum adanya materi teknis teritorial seperti pertanian, peternakan, dan perikanan dalam kurikulum, serta keterbatasan personel pengamanan. Pendidikan Dikmaba terbukti efektif dalam membentuk karakter militer, disiplin, dan kemampuan dasar keprajuritan, namun belum optimal dalam mempersiapkan prajurit untuk melaksanakan tugas teritorial pembangunan. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian kurikulum dan penambahan alokasi waktu pendidikan agar kualitas lulusan lebih sesuai dengan kebutuhan pengawakan Yonif Teritorial Pembangunan di Halmahera Selatan.
Strategi Gerilya Pangeran Diponegoro Dalam Melawan Kolonialisme Belanda (1825-1830) Dari Perspektif Perang Generasi Kedua Tri Agung Ari Pamungkas; Mitro Prihantono; Marsono
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8786

Abstract

Perang Diponegoro (1825–1830) merupakan salah satu perlawanan terbesar dalam sejarah Indonesia yang menandai benturan antara kekuatan tradisional lokal dengan modernisasi militer kolonial. Konflik ini dipicu oleh intervensi administratif Belanda terhadap hak agraria serta pelecehan ruang sakral di Tegalrejo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi pemilihan strategi gerilya, mengkaji karakteristik strategi tersebut melalui perspektif teori perang generasi kedua (Second Generation Warfare), serta menelaah relevansinya terhadap penguatan konsep pertahanan rakyat semesta di Indonesia masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap arsip kolonial dan studi pustaka, dengan analisis data menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi gerilya Diponegoro berhasil mengeksploitasi kelemahan militer Belanda yang berbasis doktrin perang generasi kedua yang kaku dan mengandalkan struktur komando linier. Diponegoro mengintegrasikan dukungan populasi sebagai pusat gravitasi (center of gravity), di mana rakyat menyediakan logistik dan informasi. Penggunaan medan geografis Jawa serta legitimasi ideologis jihad menjadi kunci daya tahan perlawanan. Belanda merespons melalui strategi Benteng Stelsel untuk mengisolasi gerilyawan dari masyarakat. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa strategi Diponegoro merupakan prototipe perang rakyat semesta yang memadukan aspek militer, sosial, dan moral, sehingga tetap relevan sebagai rujukan dalam pengembangan doktrin pertahanan nasional yang adaptif terhadap ancaman asimetris modern.