Konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Lebanon, memerlukan intervensi internasional untuk menjaga stabilitas keamanan regional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk misi perdamaian UNIFIL melalui Joint Operation Center (JOC) sebagai pusat koordinasi dan kendali untuk mengintegrasikan operasi multinasional. Namun, JOC menghadapi tantangan signifikan berupa ketidakselarasan sistem komunikasi antar kontingen, perbedaan prosedur standar operasional dari berbagai negara, dan keterbatasan pemanfaatan teknologi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas JOC dalam mengoordinasikan operasi dan pengambilan keputusan, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kinerja JOC, serta menganalisis optimalisasi peran TNI. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini melalui studi kasus, wawancara mendalam tiga narasumber JOC UNIFIL (Shift Director, J7 Exercises, dan J7 Training), observasi partisipatif, dan studi dokumentasi serta model Miles, Huberman Saldana sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi JOC memiliki prosedur koordinasi jelas (SITREP rutin, Situational Awareness Tool (SAT), dan battle rhythm terstandar). Koordinasi multinasional 40 negara menjadi tantangan utama, karena perbedaan interpretasi SOP dan hambatan bahasa, namun diatasi melalui proses Integration and Orientation, pelatihan berkelanjutan, dan penyediaan terminologi operasional. TNI menerapkan strategi optimalisasi berbasis ends-means-ways melalui pengembangan SDM, peningkatan teknologi, dan inovasi berkelanjutan. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan komitmen kepemimpinan dan disiplin tinggi prajurit, kelemahan pada penguasaan bahasa Inggris, peluang apresiasi PBB terhadap kontribusi TNI, dan ancaman kompleksitas keamanan siber. Kesimpulannya, TNI menunjukkan kontribusi signifikan dalam optimalisasi JOC melalui mekanisme koordinasi efektif, inovasi operasional berkelanjutan, dan komitmen stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.