Rismanuddin Rismanuddin
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AL-MUSTAḌʿAFĪN DAN AL-MUSTAKBIRĪN DALAM AL-QUR’AN : Tafsir Tematik-Kritis atas Kuasa Asimetris dalam Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat Akhmad Aidil Fitra; Sulastri Sulastri; Muhammad A'thoillah Mubarok; Rismanuddin Rismanuddin; Idi Warsah
AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 11 No 2 (2025): Al ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : STAI AL-ANWAR SARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47454/1237

Abstract

The geopolitical conflict involving Iran, Israel, and the United States reflects an asymmetric power relation shaped by military, ideological, and theological claims. The main problem this study addresses is how to interpret the Qur’an thematically to understand global conflict without falling into partisan reductionism. This study is important because the Qur’anic concepts of mustadh‘afīn and mustakbirīn are frequently invoked in contemporary political discourse, yet they require critical exegetical examination. This research aims to analyze the concepts of mustadh‘afīn and mustakbirīn in the Qur’an and relate them to the triangular geopolitical conflict among Iran, Israel, and the United States. It employs a qualitative library research method by combining tafsir maudhu‘i, Fazlur Rahman’s double movement hermeneutics, and critical discourse analysis. The findings show that mustadh‘afīn and mustakbirīn are not merely historical categories, but transhistorical typologies for examining asymmetric power structures. The Qur’anic narrative of Pharaoh serves as an archetype of the mustakbir, remaining relevant for analyzing contemporary global hegemony, political expansionism, and the instrumentalization of Qur’anic terminology for political legitimacy. The study also finds that the Qur’anic ethics of resistance are grounded in justice, proportionality, protection of life, and liberation, rather than sectarian violence. This research contributes to the development of contextual thematic exegesis and offers an ethical framework, grounded in maqāshid al-sharī‘ah, for contemporary Islamic diplomacy oriented toward global justice and humanitarian solidarity.
IMPLEMENTASI PSIKOTERAPI QUR’ANI DALAM MENANGGULANGI PROBLEMATIKA PORNOGRAFI DI ERA DIGITAL Rismanuddin Rismanuddin; M. Darwis Hude; Syahrullah Iskandar
PeTeKa (Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran) Vol 8, No 4 (2025): PeTeKa : Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ptk.v8i4.1208-1224

Abstract

Fenomena pornografi pada era digital telah menjadi persoalan serius yang berdampak luas, khususnya bagi generasi muda. Akses yang mudah melalui internet dan media digital menjadikan pornografi sebagai bentuk adiksi yang menyerupai narkotika, dengan konsekuensi kerusakan psikologis, sosial, dan moral. Penelitian ini bertujuan menganalisis problematika pornografi dan menawarkan solusi melalui pendekatan psikoterapi Qur’ani. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan isu pengendalian diri, moralitas, dan pemeliharaan kehormatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pornografi berdampak negatif terhadap fungsi otak, terutama prefrontal cortex, yang berimplikasi pada gangguan pengendalian diri, hilangnya konsentrasi, dan penurunan motivasi hidup. Al-Qur’an memberikan respon komprehensif melalui perintah menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, serta menjauhi zina. Selain itu, strategi aktualisasi Al-Qur’an dalam konteks modern dapat diwujudkan melalui penguatan ibadah, dzikir, pendidikan keluarga, dan pengawasan sosial. Secara struktural, regulasi hukum diperlukan untuk membatasi peredaran pornografi, sementara secara kultural diperlukan pembentukan budaya anti-pornografi melalui pendidikan moral sejak dini. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif yang memadukan dimensi spiritual, psikologis, sosial, dan hukum dalam mengatasi dampak pornografi di era globalisasi