Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gender Dysphoria and Sexual Orientation in The Islamic Perspective: A Conceptual Review of Identity, Fitrah, and Therapeutic Implications Muslimah Paxia Ilyas; M. Darwis Hude; Nurbaiti
MUWAZAH : jurnal kajian gender Vol 17 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v17i2.13330

Abstract

Gender dysphoria, as a condition of discomfort resulting from a mismatch between gender identity and biological sex, is analyzed as a complex biopsychosocial problem. Gender identity disorder is a psychological condition that is distinct from sexual orientation, but there is also a relationship. Although society generally interprets this disorder as only being experienced by   transgender people,  the fact is that people who are not transgender can also suffer from this disorder. This study uses a qualitative-analytical method through literature review and thematic analysis of the collected textual data. The result is a prohibition against physical changes made by individuals with gender dysphoria or otherwise, based on efforts to preserve the authenticity of creation (fitrah) and prevent harm. Exceptions are only made for intersex conditions that require biological clarification. As an alternative, the recommended treatment is through a psychological-spiritual approach. Given that gender dysphoria is closely related to psychological disorders resulting from such discomfort, psychotherapy such as cognitive behavioral therapy, individual, family, and group therapy is considered more in line with human nature. This approach aims to help individuals manage dysphoria, strengthen self-acceptance, and align their psychological condition with the nature of creation, rather than making physical changes that are prohibited.
IMPLEMENTASI PSIKOTERAPI QUR’ANI DALAM MENANGGULANGI PROBLEMATIKA PORNOGRAFI DI ERA DIGITAL Rismanuddin Rismanuddin; M. Darwis Hude; Syahrullah Iskandar
PeTeKa (Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran) Vol 8, No 4 (2025): PeTeKa : Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ptk.v8i4.1208-1224

Abstract

Fenomena pornografi pada era digital telah menjadi persoalan serius yang berdampak luas, khususnya bagi generasi muda. Akses yang mudah melalui internet dan media digital menjadikan pornografi sebagai bentuk adiksi yang menyerupai narkotika, dengan konsekuensi kerusakan psikologis, sosial, dan moral. Penelitian ini bertujuan menganalisis problematika pornografi dan menawarkan solusi melalui pendekatan psikoterapi Qur’ani. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan isu pengendalian diri, moralitas, dan pemeliharaan kehormatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pornografi berdampak negatif terhadap fungsi otak, terutama prefrontal cortex, yang berimplikasi pada gangguan pengendalian diri, hilangnya konsentrasi, dan penurunan motivasi hidup. Al-Qur’an memberikan respon komprehensif melalui perintah menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, serta menjauhi zina. Selain itu, strategi aktualisasi Al-Qur’an dalam konteks modern dapat diwujudkan melalui penguatan ibadah, dzikir, pendidikan keluarga, dan pengawasan sosial. Secara struktural, regulasi hukum diperlukan untuk membatasi peredaran pornografi, sementara secara kultural diperlukan pembentukan budaya anti-pornografi melalui pendidikan moral sejak dini. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif yang memadukan dimensi spiritual, psikologis, sosial, dan hukum dalam mengatasi dampak pornografi di era globalisasi