Fisronil Muntaha
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Etika  Ekologis  Qur’ani  dalam  Menjawab  Krisis  Lingkungan Global:  Rekonstruksi Nilai  Tauhid  dan  Tanggung  Jawab  Khalifah  di  Bumi Fisronil Muntaha; Kusnadi
Taqrib : Journal of Islamic Studies and Education Vol. 4 No. 1 (2026): Taqrib : Journal of Islamic Studies and Education
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/taqrib.v4i1.1470

Abstract

 Artikel  ini  mengkaji  secara  komprehensif  etika  ekologis  Qur’ani  sebagai  fondasi  moral, spiritual,  dan  filosofis  dalam  merespons  krisis  lingkungan  global  yang  semakin  kompleks  dan multidimensional.  Dalam  perspektif  Al-Qur’an,  manusia  tidak  hanya  berperan  sebagai pengguna  alam,  tetapi  juga  sebagai  khalīfah  fī  al-arḍ  (wakil  Allah  di  bumi)  yang  memiliki amanah  besar  untuk  menjaga,  memelihara,  dan  memakmurkan  bumi  tanpa  menimbulkan kerusakan.  Namun,  perkembangan  modernisasi,  industrialisasi,  dan  gaya  hidup  konsumtif telah  memunculkan  krisis  kesadaran  ekologis,  di  mana  nilai-nilai  tauhid  tergerus  oleh pandangan  dunia  sekuler  dan  antroposentris.  Hal  ini  menyebabkan  manusia  memandang  alam sebagai  objek  eksploitasi,  bukan  sebagai  tanda-tanda  kebesaran  Ilahi  (  āyāt  kauniyyah  ).  Melalui  pendekatan  tafsir  tematik  (  tafsīr  maudhu‘ī  ),  artikel  ini  menelaah  dan  merekonstruksi ayat-ayat  Al-Qur’an  yang  relevan  dengan  isu  lingkungan,  seperti  QS.  Al-A‘rāf  [7]:56, Ar-Rūm  [30]:41,  Al-Baqarah  [2]:30,  dan  Al-Mulk  [67]:15.  Kajian  ini  menemukan  bahwa Al-Qur’an  mengandung  tiga  prinsip  utama  dalam  etika  ekologi  Islam,  yaitu:  pertama,  mīzān (keseimbangan  kosmik)  yang  menegaskan  harmoni  antara  manusia,  alam,  dan  Tuhan;  kedua, amānah  (tanggung  jawab  moral  dan  spiritual)  yang  menuntut  kesadaran  manusia  sebagai penjaga  bumi;  dan  ketiga,  isti‘mār  (pemakmuran  bumi)  yang  berarti  mengelola  alam  secara produktif  tanpa  merusak  struktur  ekologisnya.  Dengan  menempatkan  nilai-nilai  tauhid  sebagai  pusat  kesadaran  ekologis,  artikel  ini menegaskan  bahwa  etika  ekologis  Qur’ani  mampu  menawarkan  paradigma  alternatif  bagi penyelesaian  krisis  lingkungan  modern.  Pendekatan  ini  tidak  hanya  menekankan  aspek  teknis dan  ilmiah,  tetapi  juga  spiritual  dan  etis,  yang  dapat  menjadi  dasar  bagi  pembangunan berkelanjutan  berbasis  nilai-nilai  keagamaan.  Dengan  demikian,  etika  ekologis  Qur’ani berfungsi  sebagai  jembatan  antara  sains,  moralitas,  dan  keimanan  dalam  membangun peradaban  manusia  yang  harmonis  dengan  alam  semesta. 
Fenomena Leaving Qur’an sebagai Cermin Krisis Spiritualitas Digital: Pendekatan Teologis dan Sosiologis terhadap Generasi Z Muslim Fisronil Muntaha; Rahmat Hidayat; Halimatusa’diyah Halimatusa’diyah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.1469

Abstract

Artikel bertujuan membahas fenomena Leaving Qur’an yang menjadi gejala kontemporer terkait krisis spiritualitas digital di kalangan Generasi Z Muslim. Dalam era media sosial, interaksi manusia dengan Al-Qur’an tidak lagi sekadar berpusat pada tradisi tilawah dan tadabbur, melainkan bergeser menuju konsumsi konten yang serba cepat, instan, dan algoritmis. Pergeseran ini menyebabkan berkurangnya intensitas refleksi dan kedalaman pemahaman, sehingga Al-Qur’an kerap diposisikan sebagai simbol identitas religius semata, bukan lagi sebagai sumber etika kehidupan. Melalui pendekatan teologis dan sosiologis, artikel ini menelaah bagaimana budaya digital, arus informasi yang hiperaktif, dan logika algoritma media sosial turut mengonstruksi bentuk baru keberagamaan yang cenderung superfisial. Dari sisi teologis, Leaving Qur’an menunjukkan lemahnya dimensi tadabbur dan internalisasi nilai ilahiah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan dari sisi sosiologis, fenomena ini dipengaruhi oleh tekanan budaya populer, pencarian eksistensi diri di ruang maya, dan perubahan pola belajar keagamaan yang semakin bergantung pada media daring. Penelitian ini menegaskan bahwa krisis spiritualitas digital bukan sekadar akibat dari kurangnya akses terhadap sumber keagamaan, melainkan akibat dari perubahan cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara memahami wahyu dalam ekosistem digital. Oleh karena itu, diperlukan strategi dakwah digital yang lebih humanistik, literasi digital Qur’ani yang kontekstual, serta revitalisasi makna tadabbur agar Al-Qur’an kembali menjadi pusat orientasi spiritual umat Islam di tengah arus teknologi dan budaya algoritmik yang mendominasi kehidupan modern.