Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

The Miracle of Arabic Language: From Pre-Islamic To Islamization Muhammad Kurnia; Rahmat Hidayat
Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v23i2.15064

Abstract

Language contributes greatly to human civilization. Among the world's major languages ​​spoken by mankind is Arabic. Arabic influences many aspects of life, such as Roman civilization in many fields, even music and poetry. Jahiliyyah Arabic only serves as a literary language. But when Islam came, Arabic underwent a very significant development, becoming the language of science. This is what is meant by the process of Islamization. This study aims to explain the influence of Islam on Arabic. Therefore, through this paper it can be concluded that even though there are several Arabic terms that are the same as those used during the Jahiliyyah and the advent of Islam, basically they have different meanings and emphasis. Islam came to have an influence in facilitating the pronunciation of Arabic terms which were previously complicated or even providing new Arabic vocabulary that was not known during the Jahiliyya period.
NKRI Harga Mati: Tinjauan Al-Qur’an Terhadap Urgensi Persatuan di Tengah Kebinekaan Eko Zulfikar; Abdul Kher; Lukman Nul Hakim; Rahmat Hidayat; Muhajirin Muhajirin
Jurnal Semiotika Quran Vol 3 No 2 (2023): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v3i2.20214

Abstract

This article attempts to review the Qur'anic review of the urgency of unity in the midst of diversity by reflecting on the Unitary State of the Republic of Indonesia, the price of death for the Indonesian people. By using descriptive analytical qualitative methods, it can be concluded that diversity and diversity in Indonesia is a necessity. Therefore, Islam has encouraged its adherents to love and tolerate each other, to knit the ties of ukhuwah basyariyah and to build harmonious relations between human beings despite different religions, races, ethnicities, and others. In the view of the Qur'an, diversity and diversity can actually be a rope of unity and not be a way of division that can bring down each other and cause war in a country. The expression of the Qur'an is closely related to diversity and diversity in line with the slogan of the Unitary State of the Republic of Indonesia Price Mati, because it has become the foundation of unity in the midst of diversity in Indonesia
Dialektika Ideologi Islam Tradisionalis dan Reformis: Analisis Pemahaman Bisri Musthafa dan Hasbi Ash-Shiddieqy Deddy Ilyas; Rahmat Hidayat; Thoriqul Aziz; Abdul Kher
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22678

Abstract

Tidak dapat dipungkiri bahwa ideologi yang dianut oleh setiap mufasir tidak dapat dilepaskan dari dalam dirinya etika menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an. Studi ini mengkaji tentang dialektika antara ideologi Islam tradisionalis dan reformis yang terdapat dalam tafsir al-Ibriz karya Bisri Musthafa dan tafsir an-Nur karya Hasbi ash-Shiddieqy. Dalam kajian ini, penulis menggunakan studi pustaka (library research) murni dengan menggunakan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim secara deskriptif-komparatif. Dengan demikian, kajian ini menghasilkan bentuk-bentuk dialektika di antara kedua tafsir yang meliputi seputar masalah taqlid, tawassul, dan bid’ah. Dari berbagai masalah tersebut, kedua mufasir memiliki pedapat yang saling bertolak belakang. Bisri sebagai pembela muslim Tradisionalis menerima praktik-praktik tersebut. Sementara Hasbi sebagai pembela Muslim reformis dengan tegas menolaknya.  Dialektika tersebut berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan, pola pikir generasi setelah mufasir tersebut, dan memiliki kontribusi terhadap perkembangan khazanah tafsir al-Qur’an di Indonesia.
Tafsir Politik: Studi terhadap Pemikiran Politik Hamka dan Pengaruhnya dalam Tafsir Al-Azhar Halimatussa'diyah Halimatussa'diyah; Abdul Kher; Rahmat Hidayat; Sulaiman Mohammad Nur
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.22790

Abstract

This article aims to reveal Hamka's political thoughts and their influence on interpretation. Many  predictions  can  be made to the figure of Hamka. Hamka is not only known as a writer, columnist, but Hamka is also popular as a scholar, mufassir and politician. Hamka in conveying his ideas, not only verbally but also in writing. This is  evident  in  the  large  number  of Hamka's  works  from various scholars. Hamka's popular and phenomenal work is Tafsir al-Azhar. As someone involved in practical politics, gave Hamka an influence in interpreting the Koran. Among Hamka's ideas in Tafsir al-Azhar are related to politics. The findings of this study are that according to Hamka, the order for deliberation is contained in the al-Qur'an, however al-Qu'an does not explain in detail the implementation of the deliberation. The implementation of deliberations depends on the situation and condition of the community. In the election of the head of state, Hamka argued that the requirements for the head of state were people of faith. The reason Hamka is the head of state chosen by a believer is because the head of state is not a believer (non-Muslim) can invite him to taghout. There is no separation between state and religion in the relationship between state and religion. Islam requires a harmonious relationship between religion and state.
The Miracle of Arabic Language: From Pre-Islamic To Islamization Muhammad Kurnia; Rahmat Hidayat
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v23i2.15064

Abstract

Language contributes greatly to human civilization. Among the world's major languages ​​spoken by mankind is Arabic. Arabic influences many aspects of life, such as Roman civilization in many fields, even music and poetry. Jahiliyyah Arabic only serves as a literary language. But when Islam came, Arabic underwent a very significant development, becoming the language of science. This is what is meant by the process of Islamization. This study aims to explain the influence of Islam on Arabic. Therefore, through this paper it can be concluded that even though there are several Arabic terms that are the same as those used during the Jahiliyyah and the advent of Islam, basically they have different meanings and emphasis. Islam came to have an influence in facilitating the pronunciation of Arabic terms which were previously complicated or even providing new Arabic vocabulary that was not known during the Jahiliyya period.
MEREKONSTRUKSI KONSEP ELECTED OFFICIAL DALAM PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN INDONESIA: PERSPEKTIF SYURA DAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL Muhammad Kurnia; Rahmat Hidayat
PROGRESIF: Jurnal Hukum Vol 20 No 1 (2026): PROGRESIF : Jurnal Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/3w0cyz30

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi konsep pejabat terpilih dalam sistem pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia dari perspektif syura dalam hukum Islam dan demokrasi konstitusional Indonesia. Fokus penelitian adalah pada pengembangan sistem pemilihan langsung presiden dan wakil presiden sejak tahun 2004 serta dinamika perubahan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan legislatif, konseptual dan historis. Materi hukum utama terdiri dari Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008, dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu Umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan langsung presiden dan wakil presiden merupakan bentuk penguatan konsep pejabat terpilih dalam sistem demokrasi Indonesia. Peralihan dari mekanisme pemilu sistem pemilu oleh MPR ke pemilihan langsung oleh rakyat mencerminkan penguatan prinsip-prinsip kedaulatan rakyat dan legitimasi demokratis. Konsep syura memiliki kesesuaian material untuk sistem pemilu langsung, khususnya di bidang partisipasi publik, legitimasi kekuasaan, dan akuntabilitas kepemimpinan. Meski demikian, demokrasi elektoral di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa politik uang, polarisasi politik, oligarki partai dan pragmatisme politik. Integrasi prinsip syura dengan demokrasi konstitusional dapat memperkuat kualitas pejabat terpilih yang lebih demokratis, etis, dan berfokus pada kepentingan umum.
Tiga Pilar Penafsiran Al-Qur’an: Analisis Komparatif Metode Bi Al-Ma’tsur, Bi Ar-Ra’yi, Dan Bi Al-Isyari Dalam Konteks Keilmuan Islam Kontemporer Anisatul Faizah; Halimatussa’diyah; Rahmat Hidayat
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/86mma410

Abstract

  This study examines three primary methods of Quranic interpretation that have developed within the Islamic scholarly tradition: tafsir bi al-ma'tsur (based on narration), bi ar-ra'yi (based on ijtihad), and bi al-isyari (based on spiritual indications). Through a comparative analysis approach, this study identifies the characteristics, advantages, disadvantages, and relevance of each method within the context of the development of contemporary tafsir. The results show that these three methods play complementary roles in providing a comprehensive understanding of the Quran. Tafsir bi al-ma'tsur ensures authenticity and purity of meaning through the transmission of authentic narrations; tafsir bi ar-ra'yi provides flexibility in responding to contemporary challenges through controlled rational reasoning; while tafsir bi al-isyari enriches the spiritual dimension of Quranic understanding. This study emphasizes that an integrative understanding of these three methods is essential for the development of a holistic tafsir science that is relevant to the dynamics of the times.
Telaah Epistemologis Kitab Manahil Al-‘Irfan Fi Ulum Al’qur’an Karya Az-Zarqani Ahsanul Aziz; Halimatussadiyah; Rahmat Hidayat
Jurnal Teologi Islam Vol. 2 No. 1 (2026): DESEMBER 2025 - MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/dpg34s87

Abstract

This study examines the epistemological critique of the book Manahil al-'Irfan fi Ulum al-Qur'an, written by the prominent scholar Abdul Adzim Az-Zarqani. The formulations and arguments he constructs in the book will be reexamined, developed, and re-evaluated to ensure its value and essence are relevant to social reality. This study uses a library research method. Hopefully, this research will contribute to the advancement of the academic community in particular and be beneficial to its readers.
Pandangan al-Dzahabī terhadap Tafsir Sufistik al-Sulamī dalam al-Tafsīr wa al-Mufassirūn Darmawan Darmawan; Halimatussa'diyah Halimatussa'diyah; Rahmat Hidayat
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.1437

Abstract

Salah satu ulama terkemuka yang memberikan keterangan terhadap kitab-kitab tafsir klasik adalah Muhammad Husayn al-Dzahabī melalui kitabnya al-Tafsīr wa al-Mufassirūn. Di antara kitab tafsir yang dibahas adalah Haqā’iq al-Tafsīr karya karya al-Sulamī, yang bercorak sufistik. Dalam kitabnya tersebut, al-Dzahabī memaparkan pandangannya terhadap karakter dan metode tafsir sufistik yang digunakan oleh al-Sulamī. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis pandangan al-Dzahabī terhadap kitab tafsir Haqa’iq at-Tafsir karya al-Sulamī. Menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analisis, data diperoleh melalui kajian pustaka terhadap literatur-literatur terkait. Analisis dilakukan dengan melihat bagaimana pandangan dan kritik al-Dzahabī terhadap tafsir sufistik al-Sulamī dan menyingkap posisi metodologis al-Dzahabī terhadap tafsir sufistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Dzahabī mengakui nilai spiritual serta dimensi keimanan yang terkandung dalam tafsir al-Sulamī. Pada dasarnya, ia tidak menolak secara keseluruhan karya Haqā’iq al-Tafsīr, bahkan dalam beberapa bagian tampak memberikan pembelaan melalui tanggapan yang proporsional terhadap berbagai kritik yang diajukan oleh para ulama. Sikap tersebut merefleksikan pendekatan yang moderat dan ilmiah dalam menilai tafsir sufistik, yakni dengan tetap menghargai aspek spiritualitas tanpa mengabaikan ketelitian metodologis dalam proses penafsiran. Penelitian ini berkontribusi terhadap penerimaan tafsir isyārī dalam konteks yang lebih luas dari penafsiran al-Qur’an berdasarkan pandangan Dhahabī.
Fenomena Leaving Qur’an sebagai Cermin Krisis Spiritualitas Digital: Pendekatan Teologis dan Sosiologis terhadap Generasi Z Muslim Fisronil Muntaha; Rahmat Hidayat; Halimatusa’diyah Halimatusa’diyah
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.1469

Abstract

Artikel bertujuan membahas fenomena Leaving Qur’an yang menjadi gejala kontemporer terkait krisis spiritualitas digital di kalangan Generasi Z Muslim. Dalam era media sosial, interaksi manusia dengan Al-Qur’an tidak lagi sekadar berpusat pada tradisi tilawah dan tadabbur, melainkan bergeser menuju konsumsi konten yang serba cepat, instan, dan algoritmis. Pergeseran ini menyebabkan berkurangnya intensitas refleksi dan kedalaman pemahaman, sehingga Al-Qur’an kerap diposisikan sebagai simbol identitas religius semata, bukan lagi sebagai sumber etika kehidupan. Melalui pendekatan teologis dan sosiologis, artikel ini menelaah bagaimana budaya digital, arus informasi yang hiperaktif, dan logika algoritma media sosial turut mengonstruksi bentuk baru keberagamaan yang cenderung superfisial. Dari sisi teologis, Leaving Qur’an menunjukkan lemahnya dimensi tadabbur dan internalisasi nilai ilahiah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan dari sisi sosiologis, fenomena ini dipengaruhi oleh tekanan budaya populer, pencarian eksistensi diri di ruang maya, dan perubahan pola belajar keagamaan yang semakin bergantung pada media daring. Penelitian ini menegaskan bahwa krisis spiritualitas digital bukan sekadar akibat dari kurangnya akses terhadap sumber keagamaan, melainkan akibat dari perubahan cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara memahami wahyu dalam ekosistem digital. Oleh karena itu, diperlukan strategi dakwah digital yang lebih humanistik, literasi digital Qur’ani yang kontekstual, serta revitalisasi makna tadabbur agar Al-Qur’an kembali menjadi pusat orientasi spiritual umat Islam di tengah arus teknologi dan budaya algoritmik yang mendominasi kehidupan modern.