Artikel bertujuan membahas fenomena Leaving Qur’an yang menjadi gejala kontemporer terkait krisis spiritualitas digital di kalangan Generasi Z Muslim. Dalam era media sosial, interaksi manusia dengan Al-Qur’an tidak lagi sekadar berpusat pada tradisi tilawah dan tadabbur, melainkan bergeser menuju konsumsi konten yang serba cepat, instan, dan algoritmis. Pergeseran ini menyebabkan berkurangnya intensitas refleksi dan kedalaman pemahaman, sehingga Al-Qur’an kerap diposisikan sebagai simbol identitas religius semata, bukan lagi sebagai sumber etika kehidupan. Melalui pendekatan teologis dan sosiologis, artikel ini menelaah bagaimana budaya digital, arus informasi yang hiperaktif, dan logika algoritma media sosial turut mengonstruksi bentuk baru keberagamaan yang cenderung superfisial. Dari sisi teologis, Leaving Qur’an menunjukkan lemahnya dimensi tadabbur dan internalisasi nilai ilahiah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan dari sisi sosiologis, fenomena ini dipengaruhi oleh tekanan budaya populer, pencarian eksistensi diri di ruang maya, dan perubahan pola belajar keagamaan yang semakin bergantung pada media daring. Penelitian ini menegaskan bahwa krisis spiritualitas digital bukan sekadar akibat dari kurangnya akses terhadap sumber keagamaan, melainkan akibat dari perubahan cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara memahami wahyu dalam ekosistem digital. Oleh karena itu, diperlukan strategi dakwah digital yang lebih humanistik, literasi digital Qur’ani yang kontekstual, serta revitalisasi makna tadabbur agar Al-Qur’an kembali menjadi pusat orientasi spiritual umat Islam di tengah arus teknologi dan budaya algoritmik yang mendominasi kehidupan modern.
Copyrights © 2026