Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penerapan Mekanisme Gugatan Sederhana dalam Sengketa Wanprestasi Akad Murabahah: Studi Putusan PA Magetan Nomor 15/Pdt.GS/2024/PA.MGT Khairul Fadli Rambe; Lilis Afifa Zahra; Putri Melissa
Jurnal Dialektika Hukum Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Dialektika Hukum
Publisher : Law Department Jenderal Achmad Yani University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36859/jdh.v8i1.5632

Abstract

The application of the simplified litigation mechanism in Islamic economic disputes is a crucial issue that tests the balance between procedural efficiency and adherence to Sharia principles. The Indonesian judiciary strives to achieve a judicial system that is simple, swift, and cost-effective, which is realized through the simplified litigation mechanism. However, Islamic economic disputes require unique legal considerations, namely the integration of positive law (PERMA) with Islamic Sharia values. This study aims to analyze the implementation, evidentiary process, and judicial reasoning in the Magetan Sharia Court Decision No. 15/Pdt.GS/2024/PA.MGT. The research design employed was a normative legal study using a single-case study approach. Data were collected through a review of primary court decisions and analyzed qualitatively and normatively using legal interpretation. The findings indicate that the GS mechanism is effectively applied in murabahah disputes, where the evidentiary process is simple and expeditious. The judge’s reasoning demonstrates a balance between positive law and the principle of al-wafa bil ‘uqud, and even rejects claims for damages deemed excessive. In conclusion, this ruling serves as an important precedent demonstrating that religious courts can function as an efficient dispute resolution forum that upholds Sharia integrity, and it is recommended for further comparative study regarding various other types of Sharia contracts.
Digital Taaruf and the Mediation of Islamic Marriage Law: Maqasid al-Syarī'ah, Sadd al-Dhari'a, and Networked Religious Authority on Instagram Khairul Fadli Rambe; Yusnita Eva; Mayang Belia Sameto; Nofan Alfandi
Penamas Vol 39 No 1 (2026): Volume 39, Issue 1, January-June 2026
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31330/penamas.v39i1.1036

Abstract

The shift of Islamic marriage practices to social media has given rise to a form of religiously mediated matchmaking whose legal status has yet to be adequately examined. This study analyses digital taaruf on the Instagram account (@taarufpadang) as a contemporary expression of Islamic family law: how do online intermediaries (wasith) facilitate sharia-compliant matchmaking whilst upholding its fiqh requirements? In response to public concerns that uncontrolled premarital interactions erode the moral boundaries of young Muslims in Padang, this platform positions itself as a trustworthy alternative. The research employs a juridical-empirical method with a qualitative case study—comprising interviews, observations and document analysis—interpreted through the framework of Indonesian Islamic family law, as well as the principles of maqāṣid al-syarī’ah, sadd al-dharī’ah and networked religious authorities. The findings suggest that these accounts’ structure interactions to prevent khalwat, whilst simultaneously shifting the authority to mediate from guardians and traditional kinship networks to digital administrators. Digital taaruf represents a tangible yet ambivalent reconfiguration of fiqh—extending the maqāṣid to the online sphere, yet raising new questions about authority, accountability and the limits of permissible digital interaction.
KOLABORASI LINTAS SEKTOR: MEMBANGUN KESEPAKATAN UNTUK INDONESIA YANG INKLUSIF Usman Arif Habibi; Hanivatul Khairat; Sunardi Simanullang; Khairul Fadli Rambe
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 4 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i4.2025.1554-1565

Abstract

Hiruk pikuk kehidupan pluralisme yang dipenuhi dengan narasi kebencian dan hasutan intoleran, telah menjelma menjadi bom waktu yang siap meledak, mengancam fondasi kebhinekaan, dan merusak lingkungan harmoni sosial. Hal ini terjadi karena beberapa faktor kompleks yang saling berkaitan. Di antaranya karena kurangnya pemahaman dan toleransi antar kelompok yang berbeda, yang diperparah oleh minimnya dialog dan interaksi yang konstruktif. Terlebih juga karena penyebaran informasi yang salah dan narasi kebencian di media sosial, yang sering kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk memecah belah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi literatur tentang toleransi beragama dalam periode 2020-2024, mengidentifikasi strategi dan mekanisme efektif untuk membangun dialog inklusif, serta mengeksplorasi manfaat implementasi toleransi beragama dalam kehidupan sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan berdasarkan 6 penelitian terdahulu, dan juga di analisis mengikuti panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Hasil analisis menunjukkan dinamika penelitian yang signifikan dalam topik ini, dengan fokus pada isu-isu toleransi beragama, dialog antaragama, dan pendidikan multikultural. Strategi dan mekanisme yang efektif meliputi pendidikan multikultural inklusif, dialog berkelanjutan, penguatan peran masyarakat sipil, kebijakan publik yang mendukung keberagaman, dan peran media yang bertanggung jawab.
Kajian Toleransi Beragama: Landasan Etis Memanajemen Konflik dan Ekstremisme Khairul Fadli Rambe
Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora
Publisher : Revolt Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63082/jksh.v1i4.25

Abstract

Kemajemukan dalam agama, bahasa, suku, dan budaya menjadi kekuatan pemersatu bangsa, namun juga berpotensi memicu konflik sosial, terutama konflik keagamaan yang sering kali disebabkan oleh kurangnya kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan. Konflik tersebut dapat diperparah oleh sikap intoleran dan penggunaan agama sebagai alat politik untuk mencapai kepentingan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan langkah awal dalam mencegah konflik dan ekstremisme yang berkelanjutan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multi case single-site exploratory case study untuk menggali fenomenologi yang terjadi di masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam secara individu dengan tujuh informan yang dipilih berdasarkan tiga kriteria: memiliki pemahaman yang mendalam tentang permasalahan yang diteliti, memiliki waktu untuk memberikan informasi, dan dapat memberikan informasi secara faktual sesuai dengan kondisi lapangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik Miles and Huberman yang melibatkan tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi beragama merupakan elemen penting dalam menjaga keberagaman dan mencegah konflik di Indonesia yang multikultural. Perbedaan yang melambangkan keistimewaan di Indonesia ini rentan menjadi isu perpecahan antar umat beragama jika tidak ditanggapi dengan sikap saling menghargai. Penelitian ini mengidentifikasi empat metode utama sebagai landasan untuk penyelesaian konflik dan ekstremisme, yaitu: (1) pendidikan moralitas untuk membangun budi pekerti yang baik, (2) memberikan pemahaman yang benar tentang toleransi beragama, (3) kegiatan sosial antar umat untuk meningkatkan kesadaran hidup berdampingan, dan (4) penerapan hukum terhadap oknum yang memicu konflik dan ekstremisme. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengatasi ketimpangan sosial dan menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.