Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penguatan Karakter Empati Dan Solidaritas Melalui Pemahaman Hadis Hak-Hak Muslim Tabriani Tabriani; Abdillah Ma’shum Tabriani; Mabrur Mabrur Tabriani; Hidayat Nur Huda Tabriani
Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 02 (2025): Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
Publisher : Jurnal Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji menurunnya empati dan solidaritas di kalangan mahasiswa, yang tampak dari melemahnya kepedulian sosial, berkurangnya perhatian terhadap sesama, serta meningkatnya sikap individualistik di lingkungan akademik. Isu ini sangat penting karena empati dan solidaritas merupakan nilai moral inti dalam Islam, yang secara kuat ditekankan dalam hadis-hadis mengenai hak-hak sesama Muslim seperti membantu, memberi salam, menjenguk orang sakit, mendukung yang sedang kesulitan, serta menunjukkan kepekaan emosional. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi kelas, dan analisis dokumen pembelajaran bersama dosen dan mahasiswa, penelitian ini menggali bagaimana pemahaman terhadap hadis-hadis tersebut diterima, diinternalisasi, dan diwujudkan dalam perilaku sosial sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang kuat terhadap hadis hak-hak Muslim secara signifikan meningkatkan empati dan solidaritas mahasiswa. Peningkatan ini didukung oleh keteladanan moral dosen, penjelasan kontekstual mengenai makna hadis, serta ruang belajar dialogis yang mendorong mahasiswa menghubungkan teks agama dengan pengalaman hidup nyata. Mahasiswa yang memahami hadis secara lebih mendalam cenderung menunjukkan perilaku sosial yang lebih peduli, mudah membantu, peka terhadap kondisi emosional maupun fisik teman, serta mampu menjaga hubungan harmonis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan karakter berbasis hadis bukan hanya relevan, tetapi juga sangat mendesak diterapkan di perguruan tinggi Islam. Pendekatan ini dapat membentuk generasi beretika sosial kuat, memiliki kesadaran emosional tinggi, dan berkomitmen pada nilai kemanusiaan yang diajarkan Nabi Muhammad, sehingga menciptakan komunitas akademik yang lebih sehat dan penuh kepedulian.
Pengaruh Kebiasaan Begadang Terhadap Kinerja Dan Kedisiplinan Pendidik Dalam Manajemen Pendidikan Islam Tabriani Tabriani; Haerul Kusuma; Abbas Albangkiy; Mifedwil Jandra
El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah Vol. 1 No. 01 (2025): El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah
Publisher : El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kebiasaan begadang yang semakin berkembang di kalangan pendidik, suatu fenomena yang semakin dipengaruhi oleh beban kerja, tuntutan administratif, serta aktivitas sosial-keagamaan. Isu ini penting karena berdampak pada dua aspek krusial dalam manajemen pendidikan Islam, yaitu kinerja guru dan kedisiplinan, yang merupakan indikator utama mutu pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling yang melibatkan sepuluh pendidik dari lembaga pendidikan Islam. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas begadang yang sering tanpa manajemen waktu yang baik menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, keterlambatan, serta menurunnya produktivitas. Sebaliknya, begadang yang didorong oleh alasan profesional atau spiritual justru dapat memperkuat komitmen kerja dan rasa tanggung jawab pendidik. Nilai-nilai Islam seperti amanah (dapat dipercaya), itqan (profesionalisme), dan mujahadah (kesungguhan) berperan sebagai unsur penyeimbang yang membantu pendidik menjaga kedisiplinan dan kinerja meskipun waktu istirahat berkurang. Temuan ini menegaskan bahwa persoalan begadang tidak semata-mata bersifat fisiologis, tetapi juga bermuatan moral dan manajerial, yang mencerminkan cara pendidik menyeimbangkan tugas profesional dan spiritualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen waktu yang efektif dan kesadaran spiritual harus menjadi landasan utama dalam manajemen pendidikan Islam guna membentuk pendidik yang disiplin, produktif, dan berlandaskan etika.